Penghayatan Umat Hindu Terhadap Hyang Widhi

Sentuhan ilmu pengetahuan telah membangkitkan keinginan generasi muda Umat Hindu untuk tahu, meneliti dan mengoreksi apa yang telah diadatkan dan ditradisikan oleh nenek moyang mereka. Percaya membabi buta merupakan suatu yang tabu bagi cendekiawan. Mereka merindukan jawaban bukan saja mengenai adat tapi mengenai agama yang mereka yakini dan taati. Jawaban pun jawaban yang logis/ilmiah untuk memuaskan akal mereka, dan sekaligus juga untuk memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.

Dampak ilmu pengetahuan juga menyebabkan pemuda-pemuda dan cendikiawan Hindu tidak puas dengan upacara-upacara yang tradisional, dan melaksanakan agama dengan kebersamaan. Dengan tidak melepaskan kebersamaan, mereka ingin menghayati Tuhan sendiri-sendiri, tidak cukup dengan sembahyang pada waktu-waktu “Piodalan” dan hari-hari Suci di Pura saja. Mereka memerlukan kebebasan berpikir merenungkan hakekat Tuhan. Untuk itu perlu keseimbangan agar jangan terjadi penolakan secara apreori terhadap semua yang berbau tradisi dan upacara-upacara.

Keesaan Hyang Widhi Wasa

Ada berjenis-jenis Pura dengan fungsi dan nama-nama yang berbeda di Indonesia ini. Lebih-lebih di Pulau Bali dengan simbul-simbul dan penghayatannya yang khas, di mana Tuhan dipersonifikasikan dengan sifat dan kekuasaan yang berbeda-beda.

Demikianlah di Pura Besakih dipuja Deva Siva dengan segala manifestainya tempat memohonkan keselamatan. Demikian juga dengan pura-pura yang lain. Di dalam Veda kita jumpai ratusan nama Deva-deva dengan kekuasaan dan fungsiNya yang berbeda-beda, karena Beliau dikenal dengan “Sahasra” nama yaitu seribu nama. Dalam pemujaan sehari-hari yang dilaksanakan oleh Umat Hindu setiap pagi, siang dan petang hari, yang dikenal dengan nama Trisandhya, dapat diketahui dengan jelas bagaimana mungkin nama Deva itu banyak seperti halnya disebutkan dalam kutipan bait II dan III, Trisandhya sebagai berikut:

0m Narayana evedam sarvam,
Yad bhutam yacca bhavyam
Niskalanko niranjano nirvikalpo
Nirakhyatah suddho deva eko
Narayano na dvitiyo ‘sti kascit

Ya Tuhan, Engkaulah Narayana yang meliputi kesemuanya ini, baik yang telah ada maupun yang akan ada; Engkau bebas dari noda, tak tercemari dan bebas dari perubahan. Engkau tak terlukiskan, suci, satu-satuNya, tiada ya kedua.

0m Tvam sivah tvam mahadevah
Isvarah paramesvarah
Brahma visnusca rudrasca
Purusah parikirtitah

Ya Tuhan, Engkau diberi gelar Siva, Mahadeva, Isvara, Paramesvara, Brahma, Visnu maupun Rudra; Engkaulah yang sering dipanggil sebagai Purusah. Kata na dvitiyo yang artinya hanya satu tidak ada duaNya yang disebut dalam bait ke II kalimat terakhir dari Trisandhya, jelas menunjukkan bahwa agama Hindu memuja satu Tuhan, meskipun Beliau dipuja dengan banyak nama seperti Siva, Mahadeva, Isvara, Paramesvara, Brahma, Visnu, Rudra, sebagaimana yang disebutkan dalam bait III Trisandhya.

Bagaimana nama yang banyak ini dapat dimengerti? Untuk hal ini baiklah kami berikan suatu perbandingan yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Ada seorang bernama Sunu, jabatannya dalam Pemerintahan adalah seorang Direktur oleh karena itu semua pegawai bawahannya memanggil dengan sebutan Pak Direktur, tetapi Pak Sunu ini juga menjadi Rektor dari sebuah Perguruan Tinggi, sehingga semua mahasiswanya memanggilnya dengan nama Pak Rektor, disamping itu sebagai manusia yang wajar, Pak Sunu ini adalah juga sebagai seorang suami karena dia punya istri dan anak. Si istri memanggil dengan panggilan “Beli” yang artinya kakak, sedang anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan “aji’ yang artinya bapak.

Dengan demikian Pak Sunu mempunyai banyak nama, setiap nama yang dipakainya itu benar dalam kaitan dengan fungsinya masing-masing. Dalam fungsinya sebagai pemimpin Universitas, nama Rektor itu benar, tetapi anaknya sendiri tidak pernah memanggilnya dengan nama Rektor. Apakah nama yang banyak ini berarti bahwa orangnya banyak? Ternyata orangnya itu hanya satu yaitu Pak Sunu sendiri. Jadi nama ini erat sekali hubungannya dengan fungsi atau tugas. Demikian pulalah Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi), Beliau disebut Brahma pada waktu menciptakan alam semesta dengan segala isinya ini, disebut Visnu pada waktu memelihara semua ciptaanNya dengan penuh cinta kasih dan begitu pula Siva pada waktu mengembalikan segala ciptaannya keasalnya.

Semua orang mengetahui hukum alam yang diciptakan oleh Tuhan, hukum yang mengatur perputaran alam ini, dimana planet-planet tidak bertabrakan, makhluk-makhluk lahir dan mati, dunia bergerak tidak henti-hentinya, yang ada di dunia fana ini adalah hukum perubahan yang abadi. Segala sesuatu yang diciptakan, setelah dinikmati dan dipelihara akan kembali berakhir kepada kemusnahan. Manusia yang lahir akan berakhir dengan kematian.

Setiap orang yang lahir harus siap menghadapi hidup dan akhirnya antre menuju tempat kematian. Lahir, hidup dan mati adalah hukum alam yang diciptakan oleh Tuhan, tidak ada seorangpun yang bisa menghindarinya.

Hukum itu adalah hukum Tuhan, dan kekuatan hukum itulah yang dimanifestasikan dan dipersonifikasikan sebagai Deva Brahma (pencipta), Deva Visnu (pemelihara) dan Deva Siva (pengembali). Bayangkan kalau di dunia ini banyak ada orang yang lahir saja dan tidak ada yang mati, maka dunia ini tentu akan penuh sesak sehingga untuk tempat berdiri pun tidak ada.

Ini adalah suatu kenyataan, janganlah mati itu dianggap suatu yang jelek; jangan pula kehancuran itu ditakuti, tidak semua kehancuran itu jelek. Untuk membangun yang baru harus menghancurkan yang lama. Deva-deva tidak lain dari sinar-sinar kekuatan atau kekuasaan Tuhan; kata Deva berasal dari urat kata Dev yang artinya sinar, yang mengambil contoh dari matahari. Kalau dunia kita ini diatur oleh matahari yang satu maka hidup makhluk-makhluk di dunia inipun dipengaruhi oleh sinar matahari yang satu ini pula. Air laut menguap menjadi embun dan jatuh menjadi hujan, sehingga sungai-sungai bermunculan di daratan adalah karena sinar panasnya matahari, kalau tidak ada panas matahari, maka air laut pun tidak menguap. Angin beredar karena perbedaan padatnya tekanan udara dari tempat yang satu dengan tempat yang lain. Perbedaan tekanan udara ditimbulkan oleh perbedaan panas, akibat perbedaan penyinaran matahari.

Andaikata angin tidak beredar maka dunia inipun akan kepanasan, tumbuh-tumbuhan hidup karena sinar matahari dan semua makhluk bisa hidup karena ada sinar matahari. Matahari itu sendiri tidak pernah menempel pada dunia kita ini, hanya sinarnya saja yang menyentuh bumi. Begitulah Tuhan diumpamakan seperti matahari, sinar-sinarnya seperti Deva, sinar itu tidak lain dari sinar kekuatan matahari, bila matahari tidak ada maka sinar itupun tidak ada. Deva-deva pun begitu juga, Deva hanya sinar kekuatan Tuhan, bila Tuhan tidak ada Deva-deva pun tidak ada. Sinar itu banyak warnanya dan berbeda-beda pula fungsi serta khasiatnya. Sinar merah, sinar ungu, sinar ultra violet dan sebagainya, adalah sinar-sinar matahari yang satu, tetapi mengapa para sarjana menyebutnya dengan sinar ultra violet, sinar inframerah dan sebagainya. Bukankah itu semua sinar matahari yang satu? Para sarjana pasti mengetahui bahwa tiap sinar matahari itu berbeda pengaruhnya terhadap bumi, sebab itulah diberi nama yang berbeda.

Demikian pula Deva-deva dalam Agama Hindu diberi nama yang berbeda, karena mempunyai kekuatan yang berbeda; Deva-deva dalam agama Hindu dianggap memiliki warna yang berbeda-beda pula (Dewata Nawa Sanga), seperti Deva Brahma warnanya merah, Deva Visnu warnanya hitam, Deva Isvara warnanya putih, dan sebagainya. Kalau demikian, mengapa tidak disebut Tuhan saja? Jangan diberi nama lain lagi dan jangan dipersonifikasikan lagi. Dalam hal ini hendaknya kita bisa memisahkan antara pengertian hakekat, pengertian penghayatan dan pengertian praktis; jangan dicampuradukkan.

Pada hakekatnya Agama Hindu itu memuja satu Tuhan, tetapi dalam penghayatannya, Umat Hindu memuja Tuhan melalui sinar kekuatannya yang disebut Deva-deva, dalam prakteknya Umat Hindu membuatkan bangunan-bangunan khusus, untuk masing-masing Deva itu, sesuai dengan kekhususan fungsinya, untuk memantapkan perasaan umat terutama umat yang awam tentang pengetahuan filsafat. Hal semacam inilah yang sering membingungkan orang yang tidak mengenal dan mendalami filsafat Hindu. Mereka akan cepat-cepat menuduh bahwa agama Hindu polytheistis. Tuhan itu dipersonifikasikan, fungsi Beliau diumpamakan sebagai sinar matahari.

Perwujudan Hyang Widhi
Apakah Tuhan Agama Hindu itu mempunyai wujud; Apakah Tuhan Agama Hindu itu sama seperti manusia sehingga kepadaNya dipersembahkan sajen-sajen yang terdiri dari bermacam-macam makanan? Kalau tidak, mengapa Umat Hindu membuat patung-patung, membuat sajen-sajen dan sebagainya? Untuk memahami ini marilah kita jangan melihat pada filsafatnya saja, tetapi juga hendaknya memahami bagaimana cara-cara penghayatan dari Umat Hindu yang awam. Dalam bait II mantram Trisandhya disebut :

0m Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dari Hyang Widhi, Dikau bersifat gaib, tak berwujud, tak terbatas oleh waktu, menguasai segala kebingungan, tak termusnahkan. Dikau Maha Cemerlang, Maha Suci, Maha Esa, tidak ada DuaNya, disebut Narayana dan dipuja oleh semua makhluk.

Di sini jelas bahwa Tuhan (Hyang Widhi itu tidak berwujud dan tidak dapat diwujudkan, tetapi mengapa ada patung-patung Dewa Apakah Umat Hindu menyembah berhala? Marilah kita mengambil perbandingan pada apa yang dilakukan oleh orang intelek dan modern. Kita tahu bahwa semua bangsa di dunia mencintai dan menghormati bangsanya, tetapi tidak seorangpun tahu bagaimana rupa sebenarnya dari apa yang disebut bangsa itu. Bangsa Indonesia menggambarkan simbul bangsanya itu dengan bendera Merah Putih, Garuda Pancasila dan sebagainya. Apakah memang betul begitu rupa dari bangsa Indonesia itu? Bendera Merah Putih itu hanya secarik kain yang terdiri dari kain merah dan putih, apakah kita menghormati kain, bukankah kain itu ciptaan manusia? Semua itu hanya sekedar simbul yang sangat berguna untuk memantapkan rasa hati berbangsa. Pada waktu upacara bendera semua orang dengan tertib dan khidmat memberi hormat kepada Bendera, meskipun semua orang tahu bahwa bendera itu berasal dari kain ciptaan manusia.

Keanehan ini timbul, karena keinginan manusia (naluri) yang ingin memvisualisasikan bentuk-bentuk yang abstrak, untuk lebih mudah dimengerti atau dihayati oleh orang awam. Demikianlah Tuhan dalam agama Hindu sudah jelas disebutkan dalam Veda bahwa Tuhan tidak berwujud dan tidak dapat digambarkan, bahkan dipikirkan pun tidak, tetapi kalau orang sembahyang tidak menggambarkan bentuk yang disembah itu, maka konsentrasinya tidak akan bisa sempurna. Meskipun tidak berwujud patung, orang yang sembahyang tentu menggambarkan Tuhan itu di dalam hatinya, minimal dalam bentuk pikiran. Namapun adalah sebuah simbul.

Nama baru ada, kalau ada bentuk, walaupun bentuk yang bersifat abstrak. Istilah Tuhan (Ida Sanghyang Widhi, Allah) dan sebagainya adalah simbul untuk menamai bentuk pikiran yang tidak dapat dilukiskan karena abstraknya. Kecenderungan ingin melukiskan Tuhan dalam bentuk patung adalah suatu cetusan rasa cinta (bhakti). Sebagaimana halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai ke tingkat Madness (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya erat-erat diumpamakan kekasihnya. Dia ingin menggambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan seperti misalnya : matanya seperti bintang timur, mukanya seperti bulan purnama, dan sebagainya.

Kalau kita pikirkan dengan tenang, jika ada orang yang matanya seperti bintang timur dan mukanya bulat seperti bulan purnama, barangkali tidak bisa kita menyebutkan orang yang sedemikian itu cantik. Semua itu adalah sekedar simbul, ekspresi dari perasaan cinta. Demikian pula Umat Hindu yang tergila-gila ingin menggambarkan Tuhannya dengan membuat patung sebagai realisasi perasaan cintanya, dihias dan dipuja, dan tidak pernah terpikirkan dalam hatinya bahwa patung itu adalah sebuah kayu diukir. Seperti halnya anak murid kelas nol kecil, jika diajar ilmu berhitung ia tidak dapat membayangkan berapa tiga tambah tiga itu, karena pengertian tiga itu adalah sesuatu yang abstrak, maka untuk itu lbu Guru terpaksa menggambarkan bulatan yang berbentuk telur di papan sebanyak tiga tambah tiga, seraya menanyakan pada anak-anak: “Ini gambar apa anak-anak? tanya Bu Guru. “Telur” jawab anak-anak. “Berapa jumlahnya anak-anak? tanya Bu Guru? Maka anak-anak pun menghitung bulatan-bulatan di papan yang dianggapnya telur itu dan mereka dapat menjawabnya dengan tepat.

Bagi anak-anak yang belum bisa membayangkan sesuatu yang abstrak itu perlu visualisasi (peragaan), dan contoh itu tidak mesti tepat, demikian pula orang awam sulit membayangkan Tuhan itu tidak berbentuk, mereka tidak bisa membayangkan Tuhan itu ada karena matanya tidak pernah melihat, mereka juga tidak mengerti kalau Tuhan tidak berbentuk, untuk apa dibuatkan Vihara atau Pura. Tuhan tidak perlu rumah dan tidak perlu tempat! Persembahan

Istan bhogan hi vo deva
dasyante yadnabhavitah,
tair dattan apradayaibhyo
yo bhunkte stena eva sah.
Bhagavadgita. 111.12

Sesungguhnya keinginan untuk mendapatkan kesenangan telah diberikan kepadamu oleh Tuhan karena yajnamu, sedangkan ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi Yajna sesungguhnya adalah pencuri.

yajna-sistasinah santo
mucyante sarva-kilbisaih,
bhujate te tv agham papa
ye pacanty atma-karanat.
Bhagavadgita. III. 13

Ia yang memakan sisa yajna, akan terlepas dari dosa (tetapi) ia yang memasak makanan hanya bagi dirinya sendiri, sesungguhnya makan dosa. Pantanglah bagi umat Hindu menikmati makanan sebelum mempersembahkan sajen/banten lebih dahulu kehadapan Tuhan dengan manifestasi beliau. Banten ini yang bentuknya kecil-kecil yang berisi nasi dan lauk ini bernama banten saiban atau sering juga disebut banten jotan. Sajen ini terlebih dahulu dipersembahkan di gentong tempat air, pada api tempat memasak, pada nasi, pada gentong tempat beras, kemudian pada bangunan tempat persembahyangan (pada masing-masing pelinggih), pada bangunan rumah tempat tidur, lumbung natar perumahan, sampai lubang pembuangan air juga diberikan sajen.

Setelah selesai melakukan persembahan itu semua, maka barulah mengambil nasi untuk di makan. Mempersembahkan banten saiban ini dilaksanakan sekitar jam 9 atau 10 sesudah seusai memasak. Sajen itu tidak perlu besar yang penting adalah pernyataan terima kasih yang tulus dan ikhlas. Umat Hindu selalu ingat darimana datangnya keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran, sehingga kesemua tempat dan alat itu yang telah membantu nasi menjadi masak disampaikan terima kasih berupa sajen.

Pada hakekatnya semua makanan termasuk yang ada di dalam basi telah dipersembahkan lebih dahulu. Adapun yang dimakan adalah sisa-sisa persembahan, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Bhagavadgita. Cara berpikir umat Hindu begitu sederhana, mereka menyadari bahwa beras yang ada di gentong bukan milik mereka karena manusia tidak bisa membuat beras meskipun bisa menanam padi. Mereka tahu air yang ada di sumur maupun di gentong bukan mereka yang membuat, karena mereka mengambil begitu saja di sumur atau di pancuran. Kenyataan tanpa api, nasi tidak bisa menjadi masak, mereka menyadari tanpa tuntunan Deva-deva dan leluhur, mereka tidak bisa menjadi manusia yang beradab. Meskipun rumah sekedar benda mati, tetapi telah banyak jasanya memberi perlindungan dari kepanasan dan kehujanan. Tuhan telah menyampaikan kasihNya melalui bermacam-macam jalan, sampai tempat pembuangan airpun telah memberikan andil keselamatan dan kesehatan. Semua yang dimakan dan semua yang membantu terjadi makanan adalah milik Tuhan oleh karena itu kepada Tuhanlah persembahan itu ditujukan.

Oleh karena Tuhan ada dimana-mana dan kasih Tuhan melalui bermacam-macam benda, maka terima kasih pun disampaikan melalui benda yang menjadi perantara kasih itu. Sajen ini adalah pernyataan bahwa mereka bukan mencuri milik Tuhan, dan yang kedua darimana datangnya kasih melalui itu pulalah terimakasih itu disampaikan.©

Source : http://www.tnial.mil.id

Cubha dan Acubha Karma

Pada dasarnya sesuai dengan siklus rwabhineda, perbuatan itu terjadi dari dua sisi yang berbeda, yaitu perbuatan baik dan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan baik ini disebut dengan Cubha Karma, sedangkan perbuatan yang tidak baik disebut dengan Acubha Karma. Siklus cubha dan acubhakarma ini selalu saling berhubungan satu sama lain dan tidak dipisahkan.

Demikianlah perilaku manusia selama hidupnya berada pada dua jalur yang berbeda itu, sehingga dengan kesadarannya dia harus dapat menggunakan kemampuan yang ada di dalam dirinya, yaitu kemampuan berfikir, kemampuan berkata dan kemampuan berbuat. Walaupun kemampuan yang dimiliki oleh manusia tunduk pada hukum rwabhineda, yakni cubha dan acubhakarma (baik dan buruk, benar dan salah, dan lain sebagainya), namun kemampuan itu sendiri hendaknya diarahkan pada çubhakarma (perbuatan baik). Karena bila cubhakarma yang menjadi gerak pikiran, perkataan dan perbuatan, maka kemampuan yang ada pada diri manusia akan menjelma menjadi prilaku yang baik dan benar. Sebaliknya, apabila acubhakarma yang menjadi sasaran gerak pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, maka kemampuan itu akan berubah menjadi perilaku yang salah (buruk).
Berdasarkan hal itu, maka salah satu aspek kehidupan manusia sebagai pancaran dari kemampuan atau daya pikirnya adalah membeda-bedakan dan memilih yang baik dan benar bukan yang buruk atau salah.
Manusah sarvabhutesu

vartate vai cubhacubhe,

achubhesu samavistam

cubhesveva vakaravet. (Sarasamuccaya 2)
Dari Demikian banyaknya mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat melakukan perbuatan baik buruk itu; adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik juga manfaatnya jadi manusia.
Untuk memberikan batasan tentang manakah yang disebut tingkah laku baik atau buruk, benar atau salah, tidaklah mudah untuk menentukan secara tegas mengenai klasifikasi dari pada baik dan buruk itu adalah sangat sulit. Sebab baik dan buruk seseorang belum tentu baik atau bauruk bagi orng lain. Hal ini tergantung tingkat kemampuan dan kepercayaan serta pandangan hidup seseorang itu sendiri. Akan tetapi menurut agama Hindu disebutkan secara umum bahwa perbuatan yang baik yang disebut Cubhakarma itu adalah segala bentuk tingkah laku yang dibenarkan oleh ajaran agama yang dapat menuntun manusia itu ke dalam hidup yang sempurna, bahagia lahir bathin dan menuju kepada persatuan Atman dengan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Sedangkan perbuatan yang buruk (acubhakarma) adalah segala bentuk tingkah laku yang menyimpang dan bertentangan dengan hal-hal tersebut di atas.
Untuk lebih jelasnya, manakah bentuk-bentuk perbuatan baik (cubhakarma) dan bentuk-bentuk perbuatan yang tidak baik (Acubhakarma) menurut ajaran agama Hindu sebagaimana disjelaskan berikut ini:
Çubhakarma (Perbuatan Baik)

1. Tri Kaya Parisudha

Tri kaya Parisudha artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berfikir yang bersih dan suci (manacika), berkata yang benar (Wacika) dan berbuat yang jujur (Kayika). Jadi dari pikiran yang bersih akan timbul perkataan yang baik dan perbuatan yang jujur. Dari Tri Kaya Parisudha ini timbul adanya sepuluh pengendalian diri yaitu 3 macam berdasarkan pikiran, 4 macam berdasarkan perkataan dan 3 macam lagi berdasarkan perbuatan. Tiga macam yang berdasarkan pikiran adalah tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, tidak berpikiran buruk terhadap mahkluk lain dan tidak mengingkari adanya hukum karmaphala. Sedangkan empat macam yang berdasarkan atas perkataan adalah tidak suka mencaci maki, tidak berkata kasar kepada makhluk lain, tidak memfitnah dan tidak ingkar pada janji atau ucapan. Selanjutnya tiga macam pengendalian yang berdasarkan atas perbuatan adalah tidak menyiksa atau membunuh makhluk lain, tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda dan tidak berjina.

2. Catur Paramita

Catur Paramita adalah empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa. Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur yang berusaha untuk kebahagiaan segala makhluk. Karuna adalah belas kasian atau kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya pendertiaan segala makhluk. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain. Catur Paramita ini adalah tuntunan susila yang membawa masunisa kearah kemuliaan.

3. Panca Yama Bratha

Panca Yama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam hubungannya dengan perbuatan untuk mencapai kesempurnaan rohani dan kesucian bathin. Panca Yama Bratha ini terdiri dari lima bagian yaitu Ahimsa artinya tidak menyiksa dan membunuh makhluk lain dengan sewenang-wenang, Brahmacari artinya tidak melakukan hubungan kelamin selama menuntut ilmu, dan berarti juga pengendalian terhadap nafsu seks, Satya artinya benar, setia, jujur yang menyebabkan senangnya orang lain. Awyawahara atau Awyawaharita artinya melakukan usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan, dan Asteya atau Astenya artinya tidak mencuri atau menggelapkan harta benda milik orang lain.

4. Panca Nyama Bratha

Panca Nyama Bratha adalah lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin, adapun bagian-bagian dari Panca Nyama Bratha ini adalah Akrodha artinya tidak marah, Guru Susrusa artinya hormat, taat dan tekun melaksanakan ajaran dan nasehat-nasehat guru, Aharalaghawa artinya pengaturan makan dan minum, dan Apramada artinya taat tanpa ketakaburan melakukan kewajiban dan mengamalkan ajaran-ajaran suci.

5.Sad Paramita

Sad Paramita adalah enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. Sad Paramita ini meliputi: Dana Paramita artinya memberi dana atau sedekah baik berupa materiil maupun spirituil; Sila Paramita artinya berfikir, berkata, berbuat yang baik, suci dan luhur; Ksanti Paramita artinya pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab penyakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik; Wirya Paramita artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, tidak mengeluh terhadap apa yang dihadapi. Jadi yang termasuk Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran; Dhyana Paramita artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untuk keselamatan;  Pradnya Paramita artinyaa kebijaksanaan dalam menimbang-nimbang suatu kebenaran.

6.Catur Aiswarya

Catur Aiswarya adalah suatu kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir dan batin terhadap makhluk. Catur Aiswarya terdiri dari Dharma, Jnana, Wairagya dan Aiswawarya. Dharma adalah segala perbuatan yang selalu didasari atas kebenaran; Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir batin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya; Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di dalam masyarakat dan negara.
7.Asta Siddhi

Asta Siddhi adalah delapan ajaran kerohanian yang memberi tuntunan kepada manusia untuk mencapai taraf hidup yang sempurna dan bahagia lahir batin. Asta Siddhi meliputi: Dana artinya senang melakukan amal dan derma; Adnyana artinya rajin memperdalam ajaran kerohanian (ketuhanan); Sabda artinya dapat mendengar wahyu karena intuisinya yang telah mekar; Tarka artinya dapat merasakan kebahagiaan dan ketntraman dalam semadhi; Adyatmika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam gangguan pikiran yang tidak baik; Adidewika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam penyakit (kesusahan yang berasal dari hal-hal yang gaib), seperti kesurupan, ayan, gila, dan sebagainya. Adi Boktika artinya dapat mengatasi kesusahan yang berasal dari roh-roh halus, racun dan orang-orang sakti; dan Saurdha adalah kemampuan yang setingkat dengan yogiswara yang telah mencapai kelepasan.
8 Nawa Sanga

Nawa Sanga terdiri dari: Sadhuniragraha artinya setia terhadap keluarga dan rumah tangga; Andrayuga artinya mahir dalam ilmu dan dharma; Guna bhiksama artinya jujur terhadap harta majikan; Widagahaprasana artinya mempunyai batin yang tenang dan sabar; Wirotasadarana artinya berani bertindak berdasarkan hukum; Kratarajhita artinya mahir dalam ilmu pemerintahan; Tiagaprassana artinya tidak pernah menolak perintah; Curalaksana artinya bertindak cepat, tepat dan tangkas; dan Curapratyayana artinya perwira dalam perang.

9. Dasa Yama Bratha

Dasa Yama Bratha  adalah sepuluh macam pengendalian diri, yaitu Anresangsya atau Arimbhawa artinya tidak mementingkan diri sendiri; Ksama artinya suka mengampuni dan  dan tahan uji dalam kehidupan;  Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang; Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain; Dama artinya menasehati diri sendiri; Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran; Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk; Prasada artinya berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih; Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun; dan Mardhawa artinya rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.

10. Dasa Nyama Bratha

Dasa Nyama Bratha terdiri dari: Dhana artinya suka berderma, beramal saleh tanpa pamerih; Ijya artinya pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur; Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin; Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi; Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu birahi (seksual); Swadhyaya artinya tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum; Bratha artinya taat akan sumpah atau janji; Upawasa artinya berpuasa atau berpantang trhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama; Mona artinya membatasi perkataan; dan Sanana artinya tekun melakukan penyician diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.

11.Dasa Dharma

Yang disebut Dasa Dharma menurut Wreti Sasana, yaitu Sauca artinya murni rohani dan jasmani; Indriyanigraha artinya mengekang indriya atau nafsu; Hrih artinya tahu dengan rasa malu; Widya artinya bersifat bijaksana; Satya artinya jujur dan setia terhadap kebenaran; Akrodha artinya sabar atau mengekang kemarahan; Drti artinya murni dalam bathin; Ksama artinya suka mengampuni; Dama artinya kuat mengendalikan pikiran; dan Asteya artinya tidak melakukan kecurangan.

12. Dasa Paramartha

Dasa Paramartha ialah sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai penuntun dalam tingkah laku yang baik serta untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa). Dasa Paramartha ini terdiri dari: Tapa artinya pengendalian diri lahir dan bathin; Bratha artinya mengekang hawa nafsu; Samadhi artinya konsentrasi pikiran kepada Tuhan; Santa artinya selalu senang dan jujur; Sanmata artinya tetap bercita-cita dan bertujuan terhadap kebaikan; Karuna artinya kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup; Karuni artinya belas kasihan terhadap tumbuh-tumbuhan, barang dan sebagainya; Upeksa artinya dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk; Mudhita artinya selalu berusaha untuk dapat menyenangkan hati oranglain; dan Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling hormat menghormati.
Açubhakarma (Perbuatan Tidak Baik)

Acubhakarma adlah segala tingkah laku yang tidak baik yang selalu menyimpang dengan Cubhakarma (perbuatan baik). Acubhakarma (perbuatan tidak baik) ini, merupakan sumber dari kedursilaan, yaitu segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila atau dharma dan selalu cenderung mengarah kepada kejahatan. Semua jenis perbuatan yang tergolong acubhakarma ini merupakan larangan-larangan yang harus dihindari di dalam hidup ini. Karena semua bentuk perbuatan acubhakarma ini menyebabkan manusia berdosa dan hidup menderita. menurut agama Hindu, bentuk-bentuk acubhakarma yang harus dihindari di dalam hidup ini adalah:

1. Tri Mala

Tri Mala adalah tiga bentuk prilaku manusia yang sangat kotor, yaitu Kasmala ialah perbuatan yang hina dan kotor, Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor, dan Moha adalah pikiran, perasaan yang curang dan angkuh.

2. Catur Pataka

Catur Pataka adalah empat tingkatan dosa sesuai dengan jenis karma yang menjadi sumbernya yang dilakukan oleh manusia yaitu Pataka yang terdiri dari Brunaha (menggugurkan bayi dalam kandungan); Purusaghna (Menyakiti orang), Kaniya Cora (mencuri perempuan pingitan), Agrayajaka (bersuami isteri melewati kakak), dan Ajnatasamwatsarika (bercocok tanam tanpa masanya); Upa Pataka terdiri dariGowadha (membunuh sapi), Juwatiwadha (membunuh gadis), Balawadha (membunuh anak), Agaradaha (membakar rumah/merampok); Maha Pataka terdiri dari Brahmanawadha (membunuh orang suci/pendeta), Surapana (meminum alkohol/mabuk), Swarnastya (mencuri emas), Kanyawighna (memperkosa gadis), dan Guruwadha (membunuh guru); Ati Pataka terdiri dari Swaputribhajana (memperkosa saudara perempuan); Matrabhajana (memperkosa ibu), dan Lingagrahana (merusak tempat suci).

3. Panca Bahya Tusti

Adalah lima kemegahan (kepuasan) yang bersifat duniawi dan lahiriah semata-mata, yaitu Aryana artinya senang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menghitung baik buruk dan dosa yang ditempuhnya; Raksasa artinya melindungi harta dengan jalan segala macam upaya; Ksaya artinya takut akan berkurangnya harta benda dan kesenangannya sehingga sifatnya seing menjadi kikir; Sangga artinya doyan mencari kekasih dan melakukan hubungan seksuil; dan Hingsa artinya doyan membunuh dan menyakiti hati makhluk lain.

4. Panca Wiparyaya

Adalah lima macam kesalahan yang sering dilakukan manusia tanpa disadari, sehingga akibatnya menimbulkan kesengsaraan, yaitu: Tamah artinya selalu mengharap-harapkan mendapatkan kenikmatan lahiriah; Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat kekuasaan dan kesaktian bathiniah; Maha Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat menguasai kenikmatan seperti yang tersebut dalam tamah dan moha; Tamisra artinya selelu berharap ingin mendapatkan kesenangan akhirat; dan Anda Tamisra artinya sangat berduka dengan sesuatu yang telah hilang.

5. Sad Ripu

Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu Kama artinya sifat penuh nafsu indriya; Lobha artinya sifat loba dan serakah; Krodha artinya sifat kejam dan pemarah; Mada adalah sifat mabuk dan kegila-gilaan; Moha adalah sifat bingung dan angkuh; dan Matsarya adalah sifat dengki dan irihati.

6.Sad Atatayi

Adalah enam macam pembunuhan kejam, yaitu Agnida artinya membakar milik orang lain; Wisada artinya meracun orang lain; Atharwa artinya melakukan ilmu hitam; Sastraghna artinya mengamuk (merampok); Dratikrama artinya memperkosa kehormatan orang lain; Rajapisuna adalah suka memfitnah.

7. Sapta Timira

Sapta Timira adalah tujuh macam kegelapan pikiran yaitu:  Surupa artinya gelap atau mabuk karena ketampanan; Dhana artinya gelap atau mabuk karena kekayaan; Guna artinya gelap atau mabuk karena kepandaian; Kulina artinya gelap atau mabuk karena keturunan; Yowana artinya gelap atau mabuk karena keremajaan; Kasuran artinya gelap atau mabuk karena kemenangan; dan Sura artinya mabuk karena minuman keras.

8. Dasa Mala

Artinya adalah sepuluh macam sifat yang kotor. Sifat-sifat ini terdiri dari Tandri adalah orang sakit-sakitan; Kleda adalah orang yang berputus asa; Leja adalah orang yang tamak dan lekat cinta; Kuhaka adalah orang yang pemarah, congkak dan sombong; Metraya adalah orang yang pandai berolok-olok supaya dapat mempengaruhi teman (seseorang); Megata adalah orang yang bersifat lain di mulut dan lain di hati; Ragastri adalah orang yang bermata keranjang; Kutila adalah orang penipu dan plintat-plintut; Bhaksa Bhuwana adalah orang yang suka menyiksa dan menyakiti sesama makhluk; dan Kimburu adalah orang pendengki dan iri hati.

 

10 Huruf Suci ( Dasa Aksara )

hurup-hurup suci yang merupakaran sumber dari alam semesta termasuk manusia adalah dasaaksara. mungkin sudah banyak yang sering mendengar kata Dasa Aksara ini, berikut ini akan diulas kembali Dasa Aksara tersebut..
10 hurup suci (Dasa Aksara)
yang merupakan sumber alam semesta

Semoga tiada halangan.
Ini merupakan wejangan yang teramat mulia, diceritakan dalam setiap tubuh manusia terdapat hurup – urup yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa – dewa dari hurup suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma(lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara(tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak di dalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung). … continue reading this entry.

Diskusi yang Panjang di grup DA

Cahaya Islam
salam saudara2 ku, saya lihat disini ada banyak diskusi ada banyak dari saudara hindu ada juga kristen. dan saya disini mewakili muslim. dan karena ada banyak agama disini tentu dan yang paling mendasar dari sebuah agama adalah konsep ketuhanan. saya mengajak saudara2 ku untuk sharing argumentatif disini dengan tema “KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA” dan saya akan memulai dengan persamaan konsep itu. akan dilanjutkan di komentar
SukaTidak Suka · · Ikuti KirimanBerhenti Mengikuti Kiriman · 19 Agustus jam 11:50

*
*
8 orang menyukai ini.
*
o
Cahaya Islam
sahabat2 ku

dalam hindu disebut kan bahwa
—————————————-
– “Na tasya Pratima asti” “Dia tidak mempunyai rupa (Yajur Veda 32: 3)
… — “Na tasya pratima asti” – Tiada suatupun yang menyerupai Dia (Svetasavatara Upanishad 4:19)

– dikatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan Dia suci ( Yahurveda 40:

sama hal nya dalam kristen
————————————-
Kel 9:14 Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.
Yes 46:9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,

dan dalam islam
————————–
Allah mempunyai sifat wajib yaitu mukhalafatul lil hawadist artinya Tidak sama dengan yang baharu atau tidak sama dengan ciptaannya.

QS 42:11 … Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.

jadi karena tuhan tidak mempunyai rupa atau tidak ada yang menyerupai tuhan maka apapun itu yang dikatakan sebagai tuhan jika ada kesamaannya dengan segala sesuatu maka itu bukanlah tuhan.

pertanyaannya “mengapa dalam agama selain islam ada penyerupaan tuhan ” ? misal dalam hindu ada wisnu digambarkan dengan yang mempunyai empat tangan, Tiap tangan memegang Cakra, tangan yang kanan memegang Rumah Kerang (gada) menaiki seekor burung Garuda sambil bersandar pada Gulungan ular.

dan dalam kristen tuhan beringkarnasi menjadi yesus kedunia.

pada hal konsep tuhan dalam tiga agama ini adalah “TIDAK ADA RUPA BAGI TUHAN, TIDAK ADA YANG MENYERUPAI TUHAN”

silakan sharing argumentatif, berikan dalil disetiap argument agar sharing nya sehat dan mendidik.Lihat Selengkapnya
19 Agustus jam 11:54 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Cahaya Islam ‎Ari Becak…

saya kira kita bisa share dengan argumentatif dan share yang mengedepankan pengertian dan saling menghormati.
19 Agustus jam 12:06 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Agama Agama Bela Yesaya 46 : 9 … AKULAH YHWH DAN TDK ADA YG SPRT AKU ,
tiada yg seprti bukan brarti tdk berwujud , Melainkan tiada yg sprt YHWH ,
ibrani 1 :3 ” IA ( YESUS ) ADALAH CAHAYA KEMULIAAN ALLAH DAN GAMBAR WUJUD ALLAH …..
ALLOH ( YAHWEH ) Itu roh , dan YESUS wujud nyata dari YHWH .
19 Agustus jam 12:10 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Ari Becak
oh… ada yang tag, ok… saudara Cahaya Islam, baik saya coba jawab;

[[pertanyaannya "mengapa dalam agama selain islam ada penyerupaan tuhan " ? misal dalam hindu ada wisnu digambarkan dengan yang mempunyai empat tangan, Tiap tangan memeg...ang Cakra, tangan yang kanan memegang Rumah Kerang (gada) menaiki seekor burung Garuda sambil bersandar pada Gulungan ular.]]

→ Wisnu = Tuhan??
mungkin kita mesti perjelas dahulu penggunaan kata Tuhan tersebut, jika Tuhan jelas sesuatu yang tidak terdefinisikan, sedangkan ada maksudkan Wisnu, jelas itu terdefinisikan…:)Lihat Selengkapnya
19 Agustus jam 12:11 · SukaTidak Suka
o
Cahaya Islam
‎Agama Agama Bela…

dalam injil jhon 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

jadi menurut injil tuhan adalah roh, sedangkan yesus bukan roh dan ini diutarakan sendiri oleh yesus da…lam lukas 24:39-43 “lihat aku ini kaki dan tanganku karena roh tidak punya daging dan tulang kemudian yesus makan”

dan ini menunjukkan yesus bukanlah tuhan karena tuhan itu adalah roh dan lebih jelas lagi

dalam
bilangan 23:19 allah bukanlah manusia
hosea 11:9 akulah allah dan bukan manusia

jika menganggap bahwa yesus adalah tuhan maka saya kira akan bertentangan dengan ayat diatas.

Ari Becak…
saudaraku, kita share saling berbagi bukan jika pendapat saya salah silakan koreksi dan jika tidak tepat silakan di benarkan.

dan pemahaman saya teantang tuhan tidak terlalu banyak dalam hindu. silakan anda kemukakan pendapat anda dan kita sharingLihat Selengkapnya
19 Agustus jam 12:17 · SukaTidak Suka
o
Cahaya Islam
‎Ari Becak…

bukankah saya sudah menuliskan diatas tentang konsep tuhan dalam agama hindu, saya tidak menyebutkan bahwa wisnu = tuhan tapi winsu adalah gambaran dari tuhan.

– “Na tasya Pratima asti” “Dia tidak mempunyai rupa (Yajur Veda… 32: 3)
– “Na tasya pratima asti” – Tiada suatupun yang menyerupai Dia (Svetasavatara Upanishad 4:19)

– dikatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan Dia suci ( Yahurveda 40:

nah, wisnu adalah gambaran tuhan dengan atribut nya seperti saya sebutkan diatas.

silahkan koreksiLihat Selengkapnya
19 Agustus jam 12:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Alvan Alvin Alvun Nyimak ajja
19 Agustus jam 12:32 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Cahaya Islam ‎Alvan Alvin Alvun…

monggo
19 Agustus jam 12:39 · SukaTidak Suka
o
Ekaa Prayoga Waisnawa Cahaya Islam : wahh, ini baru islam yg sesungguhnya…
19 Agustus jam 12:40 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Cahaya Islam
‎Ekaa Prayoga…

kita hanya ingin share, karena dengan sharing seperti ini maka akan membuat pengertian. tidak ada gunanya berdebat tapi tidak tahu ilmunya. yang islam berdebat tapi tidak tahu islam yang hindu dan kristen juga demikian mak…a hal tersebut akan menimbulkan saling hujat dan permusuhan.

dialog dengan dalil yang argumentatif untuk pengertian adalah salah satu cara yang efektif untuk mencegah ketidak tahuan yang kemudian menimbulkan saling huajt2anLihat Selengkapnya
19 Agustus jam 12:46 · SukaTidak Suka · 2 orangMade Budiana dan Daraendo Blittar’z Pattrya menyukai ini.
o
Cahaya Islam ‎Ari Becak…

saudaraku, mohon koreksi tulisan saya
19 Agustus jam 12:50 · SukaTidak Suka
o
Agama Agama Bela Cahaya islam @
Allah datang ke dunia dlm rupa manusia yaitu Yesus ,
Manusia ada 3 bagian
Tubuh , jiwa dan roh . jadi Yesus punya ketiganya
Allah bukan manusia itu benar , tp Hal yg mungkin bila Allah menjadi manusia . dan yg tak mungkin manusia jd Allah .
sori ntar siang br sy bisa lanjut ,lg di luar dan ada kerja , jd tdk bisa posting ayat ,
off dulu .
19 Agustus jam 12:52 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Vedanta Yoga saya akan menyimak
^_^
19 Agustus jam 12:53 · SukaTidak Suka · 1 orangMade Budiana menyukai ini.
o
Ksetiaan Pangeran Chinta bukan ahli agama sich q. q cuma bisa bicara dgn logika, krn ketuhanan itu misteri yg ga akan bisa d jabarkan dgn dalil
19 Agustus jam 13:00 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Cahaya Islam
‎Agama Agama Bela…

maaf saya harus emngkoreksi anda.

bukankah sudah jelas diatas
… bilangan 23:19 allah bukanlah manusia
hosea 11:9 akulah allah dan bukan manusia

dan Allah tidaklah menjelma menjadi manusia, dan hanya ada satu dalil untuk itu yaitu kesaksian yohanes dan ini terdapat dalam kitab yohanes 1:14-15
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ……

menurut yohanes firman atau diterjemahkan sebagai yesus, padahal firman itu sendiri tidak bisa diterjemahkan menjadi yesus karena firman dalam yohanes diatas berasal dari bahwa yunani yaitu “LOGOS” dan logos itu mempunyai arti yaitu “KATA, FIRMAN TUHAN, ANALOGI”

tidak ada literatur yang menyebutkan bahwa FIRMAN = TUHAN atau

yesus hanya penyampai firman dan ini diutararakan oelh yesus sendiri dalam yohanes 17:8

Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

YESUS HANYA PENYAMPAI FIRMAN, IA BUKAN FIRMAN, APALAGI FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA. BELIAU ADALAH PENYAMPAI FIRMAN YANG BERARTI UTUSAN ALLAH DAN BUKAN ALLAH.Lihat Selengkapnya
19 Agustus jam 13:02 · SukaTidak Suka
o
Ari Becak
ok… saya bahas mantram yang anda kutip;

[[-- “Na tasya Pratima asti” “Dia tidak mempunyai rupa (Yajur Veda 32: 3)]]

mantram keseluruhan;
… “Na Tasya Pratima Asti, Yasya Nam Mahadyash
Hiranyagarbh Ityesha Ma Ma Hinsidityesha Yasmanna Jat Ityesha”
arti;
The Supreme God who is described in verses like Hiranyagarbh, Yasmanna Jat, Ma Ma Hinsit, whose name and glory is extremely broad buthe/he does not have any pattern.

maksudnya mantram diatas adalah Tuhan tidak memiliki ‘pola’ yang jelas, nah maksudnya disini kata “pratima” tersebut adalah ‘pola’ bukan rupa…
sedangkan yang anda ambil hanya sebagian saja… :)Lihat Selengkapnya
19 Agustus jam 13:03 · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
o
Fuad K Nsr ‎.
@__@ kalau sudah ke UPANISHAD dah beda lg …tunggu saja nanti…pasti PURANA dkk akan bermunculan…

Ada ada saja..
19 Agustus jam 13:05 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Made Budiana
Sebuah ajakan diskusi yg mengesankan, teruskanlah..sy akan beragumen brdasarkan Kitab Tanpa Sastra, bgni konsep saya, Tuhan menguasai semua bentuk,ruang,waktu dan keadaan, dan ketika manusia menempatkan nama Tuhan diatas kenyataan hidupnya,… maka Ia adalah yg menguasai dan menjadi termulya dalam kehidupannya, artinya dalam bentuk, tanpa bentuk, nama, tanpa nama, dalam ruang, waktu ,tempat dan keadaan, disanalah kt melihat,merasakan,kemudian menyadari kuasaNya dan seperti itulah sy menyikapiNya.. Maaf atas kekurangan dan keterbatasan ini, smg berkenan.Lihat Selengkapnya
19 Agustus jam 13:06 melalui seluler · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
o
Cahaya Islam
‎Ari Becak…

saya memang mengambil sebagian tapi apakah sebagian saya diatas berbeda maksudnya dengan keseluruhan yang anda posting.

dan saya akan memposting apa yang anda tuliskan
… maksudnya mantram diatas adalah Tuhan tidak memiliki ‘pola’ yang jelas, nah maksudnya disini kata “pratima” tersebut adalah ‘pola’ bukan rupa…

pola berarti gambaran, pola nya seperti ini, itu adalah bentuk imajiner dari sebuah benda.

jangankan mempunyai rupa, mempunyai pola saja tuhan tidak.

masih ada lagi dalam kitab
“Na samdrse tisthati rupam asya, na caksusa pasyati kas canaiam. Hrda hrdistham manasa ya enam, evam vidur amrtas te bhavanti” –

BentukNya tidak dapat dilihat; tidak seorang yang melihat akan Dia dengan mata. Sesiapa yang melalui minda dan hati mengetahui akan Dia sebagai kekal di dalam hati menjadi abadi. [Svetasavatara Upanishad 4:20]

tuhan itu tidak dapat dilihat, bagaimana mungkin kalian bisa menggambarkan nya dengan wisnu, brahma, siwa.

dan lebih jauh dalam ajaran hindu
“Nainam urdhvam na tiryancam na madhye na parijagrabhat na tasy pratime asti yasya nama mahad yasah” – Tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya yang namaNya Maha suci”

lebih jauh lagi..
Yahurveda 40:9 “Andhatama pravishanti ye asambhuti mupaste” siapa yang menyembah makhluk alam semula jadi, mereka memasuki kegelapan”, (contohnya angin, air, api) “Mereka tenggelam jauh kedalam kegelapan sesiapa yang menyembah sambhuti (menyembah buatan manusia)

mohon dikoreksi, karena saya seorang muslim dan pengetahuan saya terbatasLihat Selengkapnya
19 Agustus jam 13:13 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Ksetiaan Pangeran Chinta trims Made Budiana atas jempol kakix. salam persaudaraan. hehehe…
19 Agustus jam 13:16 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Made Budiana Betapa damai jk berdiskusi sprti ini, sm2 sdr. MOH. Irwan Firdaus..mari eratkan.
19 Agustus jam 13:25 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Ksetiaan Pangeran Chinta sadarkah kalian bhwa agama kalian hanya menjelaskan wujud tuhan dalam sifat milik tuhan, bukan bentuk sprti simbol wisnu
19 Agustus jam 13:30 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Ksetiaan Pangeran Chinta sperti simbol wisnu, asmaul husna, yesus, dll. smua lambang mempunyai maksud arti masing2 yg bertujuan menerje
19 Agustus jam 13:32 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Ksetiaan Pangeran Chinta mahkan sifat tuhan itu sendiri. sifat tuhan ada pd manusia, tapi sifat manusia ga ada pada tuhan. jadi…
19 Agustus jam 13:35 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Ksetiaan Pangeran Chinta tuhan ada dlm hati manusia, tak berbentuk, tapi menjadi 1 dlm keyakinan hati qta, sperti lagu bimbo, q jauh engkau jauh
19 Agustus jam 13:37 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Cahaya Islam saya kira konsep nya jelas dan sudah saya poting diawal
19 Agustus jam 13:43 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Ksetiaan Pangeran Chinta aq dekat engkau dekat. jika udah ada d hati, apa qta ga malu jika berbuat dosa??????
19 Agustus jam 13:43 melalui seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Ksetiaan Pangeran Chinta ceklock dulu. yuk ah…
19 Agustus jam 13:45 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Made Budiana ‎@ Moh.Irwan Firdaus..didalam Hindu itu disebut Atman/Jiwatman/sifat Tuhan yg ad dhati kita.
19 Agustus jam 13:45 melalui seluler · SukaTidak Suka
o
Cahaya Islam ‎Made Budiana…

silakan lanjutkan komentar anda, dan silakan koreksi tulisan saya jika ada yang salah. topik diatas bertema konsep ketuhanan dalam dalam agama. dan saya telah memposting konsepnya.

monggo semoga anda bisa memberikan khasanah ilmu bagi saya
19 Agustus jam 13:50 · SukaTidak Suka
o
Dharma Raksaka
‎Cahaya Islam, konsep ini, padahal sudah menjawab semua pertanyaan anda, NETI NETI NETI, yang jelas ITU tidak dapat digambarkan dengan kata-kata Nirguna Brahman (tidak berwujud-tidak terpikirkan-abadi). Lalu, karena sifat ITU ada di mana-ma…na dalam Hindu “Wyapi Wyapaka Nirwikara”, ITU ada di mana-mana menguasai segalanya, jadi terserah dong ITU mau jadi apa?, karena kekuasaannya mau jadi manusia, jadi hewan, jadi Dewa, jadi wah pokoknya terserah ITU-maunya apa?, dalam Hindu, ITU bisa menjadi para Dewa karena kekuatan dari ITU pada aspek tertentu, misalkan ITU dalam kekuatannya mencipta disebut dengan Brahma, ITU dalam kekuatannya sebagai pemelihara disebut Wisnu, ITU dalam kekuatannya sebagai pengharmonis disebut Siwa….setelah ITU “menjadi” ini dalam kondisi Sadguna Brahman.Lihat Selengkapnya … continue reading this entry.

Ahimsa

Dengan hadirnya kemantapan Ahimsa, rasa permusuhan tidak punya tempat berpijak (vairatyaga). Dengan hadirnya kemantapan Satya, ketulusan di dalam menyerahkan kerja dan hasilnya dimungkinkan (phalasrayatvam). Dengan hadirnya kemantapan Asteya, semua ‘kekayaan’ mendekat dengan sendirinya bagi Sang Yogi. Dengan hadirnya kemantapan Brahmacarya, semangat spiritual yang kuat (virya) diperoleh. Dengan hadirnya kemantapan Aparigraha, muncullah pemahaman yang baik tentang proses kelahiran manusia (janma kathamta).
[YS II.35 - II.39] … continue reading this entry.

PANCA NYAMA BRATA

A.  PENGERTIAN PANCA NYAMA BRATA

Pengertian Panca Nyama Brata mempunyai arti lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental, untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin. Panca Nyama Brata adalah untuk mengendalikan semua akibat – akibat buruk yang ditimbulkan oleh mental dan pikiran.

B.  BAGIAN – BAGIAN PANCA NYAMA BRATA

1.  Akroda

2.  Guru Susrusa

3.  Sauca

4.  Aharalagawa

5.  Apramada

… continue reading this entry.

PANCA YAMA BRATA

A.  PENGERTIAN

Panca Yama Brata terdiri dari kata Panca artinya lima, Yama artinya pengendalian, Brata artinya taat terhadap sumpah.

Panca Yama Brata artinya lima macam disiplin manusia dalam mengendalikan keinginan

B.  BAGIAN – BAGIAN PANCA YAMA BRATA

1.  Ahimsa

2.  Brahmacari

3.  Satya

4.  Awyawaharika

5.  Asteya atau Astenya

C. PENJELASAN MASING – MASING BAGIAN PANCA YAMA BRATA

  1. Ahimsa.

Perkataan Ahimsa berasal dari dua kata yaitu : “a” artinya tidak, “himsa” artinya menyakiti, melukai, atau membunuh.

Jadi, Ahimsa artinya tidak menyakiti, melukai, atau membunuh mahluk lain baik melalui pikiran, perkataan, dan tingkah laku secara sewenang – wenang. Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya untuk tidak membunuh atau menyakiti mahluk lain adalah dosa. Ajaran Ahimsa itu merupakan salah satu faktor susila kerohanian yang amat penting dan amat utama. … continue reading this entry.

Tri Kaya Parisudha

1.1  Pengertian Tri Kaya Parisudha

… continue reading this entry.

Panca Sradha

  1. PENGERTIAN PANCA SRADHA

Agama Hindu disebut pula dengan Hindu Dharma, Vaidika Dharma ( Pengetahuan Kebenaran) atau Sanatana Dharma ( Kebenaran Abadi ). Untuk pertama kalinya Agama Hindu berkembang di sekitar Lembah Sungai Sindhu di India. Agama Hindu adalah agama yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa, yang diturunkan ke dunia melalui Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta kepada para Maha Resi untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia di dunia. … continue reading this entry.

VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA

1

(Scientific Verification of Vedic Knowledge)

Dr. Made Wardhana2

om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakayacaksur unmilitam yena tasmai sri-gurave namah

PENDAHULUAN

Berbicara tentang weda, semua orang akan memahami yang artinya pengetahuan, pada awalnya pengetahuan disampaikan langsung dari sumber yang aslinya yaitu Personalitas Tuhan sebagai Adiguru (Omni-scince), yang maha mengetahui dan kemudian diteruskan kepada personalitas-personalitas agung yang dikuasakan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan sejati yang bersifat kekal, karena bersumber dari Personalitas Tertinggi dan yang kekal. Perkembengan berikutnya karena keterikatan manusia dengan duniawi, serta perputaran yuga dari Satya yuga sampai Kali yuga, manusia lebih mengutamakan pengetahuan duniawi dengan dalih untuk kesejahteraan umat manusia. Sains modern yang dihasilkan dari olah pikir manusia dengan metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sesuai dengan sastra ada dua jenis pengetahuan : pengetahuan modern yang bersifat relatif (pengetahuan yang diterima diperguruan tinggi) dan pengetahuan sejati yang bersifat absolut. Dalam upanisad dinyatakan : “tasmai sa hovaca : dve vidye vediavye iti ha sma yad brahmavido vadanti, para vaivapara ca” dua macam pengetahuan hendaknya dimengerti yaitu pengetahuan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah (Mundaka upanisad I.1.4). Jelas disebutkan pengetahuan yang lebih tinggi (paravidya) yaitu pengetahuan tentang Brahman, kebenaran mutlak dan aparavidya pengetahuan duniawi yang bersifat relatif. Para ilmuwan umumnya kurang memahami aspek paravidya, dan lebih terbuai dengan aparavidya. Sebagai contoh, biologi adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang kehidupan, banyak kajian tentang bentuk-bentuk jasad(spesies), anatomi-fisiologi, perilakunya dan lainnya yang semuanya masih bersifat kajian material, belum menyentuh tentang sumber atau tenaga rohani yang menyebabkan sesuatu disebut mahluk hidup, yaitu keberadaan sang roh atau tenaga rohani Tuhan(para-prakrti). Tanpa adanya partikel rohani (roh) ini, mahluk hidur tidak akan berkembang. – … continue reading this entry.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.