VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA

1

(Scientific Verification of Vedic Knowledge)

Dr. Made Wardhana2

om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakayacaksur unmilitam yena tasmai sri-gurave namah

PENDAHULUAN

Berbicara tentang weda, semua orang akan memahami yang artinya pengetahuan, pada awalnya pengetahuan disampaikan langsung dari sumber yang aslinya yaitu Personalitas Tuhan sebagai Adiguru (Omni-scince), yang maha mengetahui dan kemudian diteruskan kepada personalitas-personalitas agung yang dikuasakan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan sejati yang bersifat kekal, karena bersumber dari Personalitas Tertinggi dan yang kekal. Perkembengan berikutnya karena keterikatan manusia dengan duniawi, serta perputaran yuga dari Satya yuga sampai Kali yuga, manusia lebih mengutamakan pengetahuan duniawi dengan dalih untuk kesejahteraan umat manusia. Sains modern yang dihasilkan dari olah pikir manusia dengan metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sesuai dengan sastra ada dua jenis pengetahuan : pengetahuan modern yang bersifat relatif (pengetahuan yang diterima diperguruan tinggi) dan pengetahuan sejati yang bersifat absolut. Dalam upanisad dinyatakan : “tasmai sa hovaca : dve vidye vediavye iti ha sma yad brahmavido vadanti, para vaivapara ca” dua macam pengetahuan hendaknya dimengerti yaitu pengetahuan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah (Mundaka upanisad I.1.4). Jelas disebutkan pengetahuan yang lebih tinggi (paravidya) yaitu pengetahuan tentang Brahman, kebenaran mutlak dan aparavidya pengetahuan duniawi yang bersifat relatif. Para ilmuwan umumnya kurang memahami aspek paravidya, dan lebih terbuai dengan aparavidya. Sebagai contoh, biologi adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang kehidupan, banyak kajian tentang bentuk-bentuk jasad(spesies), anatomi-fisiologi, perilakunya dan lainnya yang semuanya masih bersifat kajian material, belum menyentuh tentang sumber atau tenaga rohani yang menyebabkan sesuatu disebut mahluk hidup, yaitu keberadaan sang roh atau tenaga rohani Tuhan(para-prakrti). Tanpa adanya partikel rohani (roh) ini, mahluk hidur tidak akan berkembang. –

Untuk mendapatkan pengetahuan modern, manusia mempergunakan indria-indrianya dengan melakukan upaya pengamatan secara langsung (empiris) maupun dengan cara analisis, namun karena indria manusia sangat tidak sempurna maka pengetahuan yang dihasilkanya pun kurang sempurna. Dalam Manu Samhita 12.105 dinyatakan bahwa : “pratyaksas-canumananca sastranca vividhagamam trayam suviditam karyam dharma-suddhim-abhisata” Jika seseorang ingin mengerti tentang realitas, hendaknya memperhatikan tiga cara(pramana) yaitu; pratyaksa dengan melihat langsung, anumana dengan analisis dan berdasarkan sastra (sabdha) yaitu dengan mendengar langsung dari otoritasnya’. Dibandingkan dengan pratyaksa dan anumana pranama, sabda jauh lebih baik asalkan dari sumber yang benar dan dapat dipercaya, karena akan memperoleh pengetahuan yang asli, seperti halnya untuk mengetahui siapa ayah kita, maka sang ibulah yang punya otoritas sehingga kita percaya penuh apa yang dikatakan ibu dan tidak perlu lagi membuktikan dengan tes DNA. Demikian juga pengetahuan weda hendaknya diterima melalui otoritas, dengan demikian akan mendapatkan pengetahuan yang utuh. Perlu dipahami bahwa ajaran weda bukanlah suatu mistisism, kayalan atau hanya konsep, namun suatu pengetahuan yang mempunyai ketepatan, kebenaran tinggi. Pengetahuan weda pertama kali disabdakan kepada Dewa Brahma pada awal penciptaan, itu berarti peradaban weda telah ada, jauh sebelum disabdakan Bhagavadgita sekitar 5000 tahun yang lalu, namun sampai saat ini masih ada yang menganggap sebagai misteri, dan banyak kalangan hanyalah sekedar karya sastra biasa. – ’

Dalam tulisan singkat ini penulis ingin menguraikan secara singkat antara kedua sains tersebut yang meliputi bukti ilmiah peradaban weda serta aspek ilmiah dari ajaran weda itu sendiri seperti ; penciptaan alam semesta, reinkarnasi, keragaman spesies, hubungan karma-penyakit dan lainnya.

1). Dipresentasikan dalam Forum Diskusi “Sains dan Agama” diselenggarakan oleh Peshraman Raja Vidya,

Minggu, 30 Oktober 2005, di Aula Institut Hindu Dharma Negeri, Denpasar.

2). Ketua Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia, dan pengikut Sampradaya Vaisnava.

BUKTI ILMIAH PERADABAN WEDA

Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun. Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution : A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah. Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya perupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Perang Bharatayuda

Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin mementukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM

Bhishma pulang ke dunaia rohani sekitar January 17 Januari 3066 SM

Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM

Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM

Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM

Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.

Kota kuno Dvaraka

Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

Jembatan Alengka

Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan antara India dan Sri Langka sepanjang 30 Km, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1 750 000 tahun angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.

Sungai Sarasvati

Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air diwilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4 320 000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

KEBENARAN AJARAN WEDA

Turunnya Avatara Telah Terdaftar

tatah kalau sampravritte sammohaya sura-dvisham buddho namnanjana-sutah kikateshu bhavishyati” – Kemudian, pada awal Kali yuga Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana di propinsi Gaya, dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan (Srimad Bhagavatam 1.3.24)

yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham

Dalam Bhavisya purana (sejarah masa datang) III.2.23 menyatakan “….ko bhavaanithi tham praaha sahovaacha mudaanwitha eshaputhram cha maam vidhi kumaaree garbha sambahavam aham eesa maseeha nama” – “.. Aku akan lahir sebagai Isa Mahesa/ Esa putra, anak Tuhan dari ibu yang perawan…..” Sekitar tiga ribu tahun setelah purana itu ditulis ternyata benar telah muncul Nabi Isa (Yesus) sebagai anak Tuhan yang lahir dari Ibu perawan. Masih dalam purana yang sama III.3.3, dengan jelas dinyatakan “…didaerah meleccha akan muncul guru kerohanian bernama Mahamada….”

meleccha merujuk suatu masyarakat dengan peradaban yang sangat merosot dan jauh dari weda, Mahamada akan muncul dengan membawa agama baru. Demikian Nabi Muhamad telah diramalkan dalam purana.

Pada zaman Kali, tahun 1489 (sekitar 500 tahun yang lalu) Personalitas Tuhan kembali menunjukkan kemurahanNya dengan kembali turun ke bumi sebagai seorang brahmana yang masih muda yang bernama Sri Caitanya Mahaprabhu, seperti di ungkapkan dalam Garuda-Purana : kalina dakya mananam paritranaya tanu-bhrtam janma prathama sandhyayam karisyami dvijatisu -Pada awal dari Kali-yuga, Aku akan datang sebagai brahmana yang akan menyelamatkan roh-roh yang jatuh sebagai akibat pengaruh jelek dari Kali-yuga. Masih dalam purana yang sama dinyatakan “aham purno bhavisyami yuga-sandhyau visesatah mayapure navadvipe bhavisyami sachi sutah – Aku akan lahir sebagai putra Sachi di Navadvip- Mayapur. Banyak lagi purana yang menyebutkan avatara Beliau di zaman Kali. Ternyata itu adalah suatu realitas ciri-ciri yang disebutkan dalam sastra yang ditulis 5000 tahun yang lalu ternyata benar adanya. Tuhan ber-inkarnasi sebagai brahmana belia yang mengajarkan metode untuk memutus rantai kelahiran –kematian (reinkarnasi) pada Kali-yuga ini dengan cara mengucapkan nama suci Tuhan, ajaran tersebut diteruskan kepada murid-murid Beliau, demikian seterusnya melalui rangkaian garis perguruan weda (parampara), sampai saat ini parampara tersebut masih eksis.

Dengan beberapa bukti sastra tersebut jelas kebenarannya purana tersebut tak terbantahkan lagi, karena yang menyusun purana, Srila Vyasadeva adalah roh yang agung yang telah mencapai kesempurnaan, mengetahui masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang (trikala jna). Dari beliaulah sampai saat ini kita semua mendapatkan pengetahuan sejati.

Masih banyak sekali peristiwa yang terjadi yang telah ditulis 5000 tahun yang lalu, dan telah menjadi kenyataan seperti munculnya Sankaracarya, Nabi Musa, Ratu Victoria dan sebagainya. Dari bukti-bukti tersebut diatas jelas bahwa apa yang tercantum dalam purana-purana telah meramalkan peristiwa-peristiwa penting lainnya termasuk jadwal Tuhan akan turun lagi atau mengutus roh-roh yang agung untuk turun dengan misi tertentu. Bhagavadgita merupakan sabdha suci dari Personalitas Tertinggi menjelang Kali-yuga, sebagai sumber pengetahuan rohani (paravidya), sudah jelas dimana disabdakan, kapan disabdakan, berapa lama disabdakan, siapa saja yang mendengar sabda tersebut. Peristiwa tersebut ditulis kembali oleh Srila Vyasadeva.

Kosmologi : Penciptaan dan Sistem Planetarium

Kapan alam semesta diciptakan, berapa umur alam semesta dan siapa mahluk hidup yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Para ilmuwan sampai saat ini belum menemukan jawaban atas pertanyaan diatas. Proses penciptaan alam semesta, oleh para ilmuwan masih sangat percaya dengan teori ‘Big Bang’ sebagai awal penciptaan alam semesta. Kaum materialis yakin bahwa alam semesta adalah kekal selamanya (tidak diciptakan). Didapatkan bukti dari teori Big Bang bahwa alam semesta berawal dari ledakan besar yang kemudian terjadi tebaran planet-planet akibat turunnya suhu secara drastis, sayangnya para ilmuwan belum bisa menjawab mengapa hasil ledakkannya bergerak demikian teratur dan siapakah yang ada dibalik ledakan besar tersebut ?. Para ilmuwan tidak memahami kehendak dibalik penciptaan yang demikian rumit, terlalu sulit bila dikatakan hanya sebagai peristiwa kebetulan saja, dan tidak dapat memahami rancangan agung Sang Pencipta (Tuhan), karena tidak memahami tenaga rohani dan tenaga material Beliau dari sumber sastra. Model ‘Big Bang’ sampai saat ini menjadi misteri.

Dalam Bhagavata Purana skanda 3 telah disebutkan proses penciptaan secara lengkap dimulai dari ekspansi Personalitas Tuhan sebagai Maha-visnu (Karanadakasayi Visnu) yang berbaring di lautan karana. Dari badan Mahavisnu diciptakan planet-planet duniawi berupa miliaran gelembung-gelembung dari tubuh Beliau, jadi telah dinyatakan bahwa bentuk bumi adalah bulat, sedang para ilmuwan modern baru dapat membuktikan dunia ini bulat sekitar abad 14. Lautan karana (penyebab) berada di luar angkasa material dan dalam alam semesta ciptaanNya mengapung miliaran balon-balon alam semesta. Semua alam semesta ini keluar dari pori-pori kulit Maha-Visnu pada saat Beliau menghembuskan nafas. Di luar lautan karana ini terbentang angkasa rohani dari Brahmajyoti yang luasnya tak terbatas. Miliaran alam semesta tersebut tersusun demikian rapinya, dengan tenaga materialNya(apara-prakrti) planet-planet tersebut bergerak dengan garis edar yang sudah diatur. Dalam Rig Veda dinyatakan “suryaha jagat guru gurutvaakarshan” – “Matahari adalah sebagai guru, matahari sebagai pusat dari planet.” Jelas dimaksud adalah perputaran yang heliosentris. Para ilmuwan modern baru membuktikan perputaran planet secara heliosentris sejak abad 15 oleh Galileo, sebelumnya adalah geosentris. Berikutnya Personalitas Tuhan berekspansi ke masing-masing alam semesta dalam wujud Garbhodakasayi Visnu berbaring di lautan Garbhodaka, dari pusarNya tumbuh bunga padma, dari bunga padma inilah muncul kehidupan pertama yaitu Dewa Brahma yang ada pada setiap alam semesta, Dewa Brahma akan melanjutkan ciptaan-ciptaan lainnya karenanya Dewa Brahma disebut sebagai pencipta kedua. Dalam setiap alam semesta terdapat Dewa Brahma yang berbeda yang bertugas penciptaan lebih lanjut di alam semesta tertentu. Dewa Brahma dikuasakan untuk menciptakan seluruh spesies dan berbagai susunan planet di alam semesta. Dari Dewa Brahma tercipta Parajapati, Rsi-rsi agung dan manu leluhur manusia; Swayambhu serta beraneka jenis mahluk yang lebih rendah. Jumlah seluruh spesies kehidupan adalah sekitar 4 800 000 spesies. Selanjutnya Tuhan berekspansi menjadi Kriodakasayi Visnu yang akan berada dalam setiap mahluk hidup ciptaanNya sebagai Paramatma. Itulah secara singkat proses penciptaan alam semesta ini, semua yang terjadi atas kehendak dari “The Grand Designer”, bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Dalam purana dinyatakan bahwa 1 hari Dewa Brahma (1 kalpa) adalah 1000 x putaran 4 yuga (1728000 + 1296000 + 864000 + 432000) = 4320 X 106 tahun. Total usia alam semesta adalah 100 kali umur Dewa Brahma atau sekitar 311 triliun 40 miliar tahun. Namun demikian planet Dewa Brahma (satya loka) sebagai planet tertinggi, namun bersifat halus dan jauh lebih tinggi kwalitasnya dibandingkan dengan planet bumi. Satya-loka masih berada dalam angkasa material, sehingga Dewa Brahma tetap dipengaruhi oleh hukum-hukum alam yaitu hukum kelahiran dan kematian. Para ilmuwan saat ini sedang mencari kapan alam semesta diciptakan, dan berapa umur alam semesta, dan siapa mahluk penghuni pertama alam semesta ini. Purana telah menjawabnya.

Keragaman Spesies

Teori evolusi yang menyatakan bahwa nenek moyang kita adalah berasal dari kera, seolah-olah telah menjadi kebenaran di seluruh lapisan masyarakat. Anak-anak sekolah sudah sangat akrab dengan pernyataan “manusia berasal dari spesies kera”, kalau dibiarkan hal ini akan sangat meracuni umat manusia dengan lunturnya keyakinan (sradha) terhadap Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta. Menurut Bhagavadgita bahwa kehidupan atau sang roh itu adalah kekal, keaneka ragaman badan-badan material (biodiversity) berupa mahluk hidup dari tingkat yang sangat sederhana yaitu mahluk bersel satu, parasit, tumbuh-tumbuhan, aneka hewan, sampai manusia merupakan badan-badan material yang telah diciptakan secara utuh yang siap dihuni oleh sang roh. Sang roh akan mendapat badan material tertentu berdasarkan karma dan kesadaran yang dimilikinya pada kehidupan yang lalu. Srila Prabhupada, selalu mengutip sloka Purana dibawah ini yang menjelaskan keaneka ragaman spesies kehidupan yang menjadi terminal perjalanan sang roh :

asitim caturas caiva laksams tan iva-jatisu

bhramadbhih purusaih prapyam manusyam janma paryayat

tad apy aphalatam jatah tesam atmabhimaninam

varakanam anasritya govinda-carana-dvayam

“Seseorang mencapai bentuk kehidupan manusia setelah bertransmigrasi melalui 8 400 000 spesies kehidupan dengan proses evolusi kesadaran secara gradual. Bahwa bentuk kehidupan manusia dilupakan sehingga menjadi orang yang kurang cerdas dan angkuh yang tidak mau berlindung di kaki padma Govinda (Krishna).” (Brahma-vaivarta Purana).

Dalam Padma Purana menyatakan “Ada 900 000 spesies hidup yang hidup di air; 2 000 000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan; 1 100 000 spesies serangga; 1 000 000 spesies kehidupan burung ; 3 000 000 spesies binatang buas; dan 400 000 spesies kehidupan manusia.”

Proses perkembangan dan perjalanan sang roh melalui 8.400.000 spesies, yang telah berlangsung sejak miliaran tahun yang lalu. Seperti diketahui bahwa jiwa/roh adalah partikel rohani(non-material) yang merupakan jati diri kehidupan. Bila partikel rohani tersebut meninggalkan badan, maka apapun kehebatan badan material tersebut tidak ada artinya lagi. His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Swami (DR. TD Singh) menyebut partikel rohani tersebut dengan nama ’spiriton’ yaitu suatu tenaga rohani (para-prakrti) yang memiliki sifat sama dengan Tuhan yaitu kekal, berpengetahuan dan penuh kebahagiaan. Partikel rohani ini merupakan kesadaran murni, yang oleh karena keterikatan dengan sifat alam mendapatkan beraneka badan material. Spiriton (roh) bertransmigrasi dari satu badan ke badan lain, dan terkurung dalam penjara-penjara badan. Sifat alam semesta yang disebut triguna yaitu : sattva-guna (sifat kebaikan), rajo-guna (sifat nafsu) dan tamo-guna (sifat kebodohan). Pengaruh ketiga sifat alam tersebut akan mempengaruhi kesadaran kita, kesadaran pada saat perpindahan sang roh akan sangat menentukan badan-badan yang akan kita peroleh pada kehidupan berikutnya. Sama halnya seperti mencampur warna dasar (biru, merah dan kuning), dari berbagai konsentari warna dasar tersebut akan memperoleh jutaan corak warna yang beraneka ragam. Demikian juga atas pengaruh 3 sifat alam material akan menentukan badan yang akan diperoleh. The Grand Designer, personalitas tertinggi Tuhan, telah merancang pengaturan hukum alam tersebut. Menurut Bhagavad-gita (14.5), “sattvam rajas tama iti gunah prakirti-sambhavah …” – Alam material terdiri dari tiga sifat ; kebaikan (satwik), nafsu (rajasik) dan kebodohan (tamasik). Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan……”. Teori evolusi Darwin secara arkeologis, genetika dan biomolekuler tidak terbukti, bahkan Darwin sendiri mengatakan bahwa teorinya masih sangat lemah dan perlu pembuktian dimasa mendatang.

Kelemahannya adalah karena tidak menyertakan pemahaman tentang sang roh dalam kajian tersebut. Sebenarnya bukanlah evolusi fisik yang terjadi tetapi evolusi spiritual yang akan menentukan badan-badan material yang didapat. Namun teori Darwin sangat didukung oleh paham materialis-atheis seperti ; Marx, Plank, S Freud dan lainnya.

Bukti Ilmiah Reinkarnasi

Reinkarnasi (samsara) adalah transmigrasi sang roh dari badan ke badan lainnya, tidak ada informasi yang paling lengkap kecuali dalam weda. Beberapa bukti ilmiah tentang adanya reinkarnasi telah diungkapkan oleh beberapa peneliti dengan berbagai metode pendekatan ilmiah. Beberapa buku seperti Children Past Lives, Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, Where Reincarnation and Biologiy Intersect, memperkenalkan hasil penelitian Dr. Ian Stevenson, dari Universitas Virginia, Amerika, tentang bukti-bukti yang berhubungan dengan adanya kehidupan masa lalu dan reinkarnasi. Demikian juga website diinternet tentang reinkarnasi sangat banyak dijumpai yang menyediakan informasi tentang kehidupan masa lalu dan reinkarnasi. Reinkarnasi dalam pengertian hukum positip sulit dibuktikan sebagai suatu kenyataan ingatan kehidupan masa lalu, karena kemampuan daya ingat otak manusia sangat terbatas. Namun dalam keadaan tertentu, tanpa disadari atau terjadi perubahan kesadaran maka ingatan dibawah sadar tersebut akan muncul kepermukaan, dan dapat menguraikan dengan jelas tentang pengalaman-pengalaman pada kehidupan sebelumnya. Buku buku diatas telah mencatat kasus kasus kehidupan masa lalu seseorang, terutama pada anak-anak dibawah tiga tahun. Dalam keadaan hipnosa, kesadarannya menurun namun dapat mengungkapkan secara terperinci pengalaman-pengalaman kehidupan masa lalunya. Kemudian cerita yang diungkapkan tersebut dilakukan cross check dengan menelusuri, nama tempat tahun atai alibi-alibi lainnya, ternyata banyak benarnya. Ian Stevenson telah meneliti lebih dari duaribuan anak dari berbagai belahan dunia.

Salah satu kasus yang paling bagus pembuktian kebenarannya yaitu seorang gadis muda dari India bernama Shanti Devi, yang tinggal di Delhi (lahir tahun 1926) yang pada umur tiga tahun mulai mengingat dan bercerita tentang hal-hal dari kehidupan masa lalu di kota Muttra yang jauhnya delapan puluh mil. Dia mengatakan bahwa dirinya dinikahi seorang saudagar kain, melahirkan seorang anak laki-laki dan meninggal dunia sepuluh tahun kemudian, dan banyak pernyataan yang diceritakan secara detail tentang kehidupan masa lalunya sampai ia berumur 9 tahun. Pernyataan-pernyataan itu direkam. Peneliti merencanakan kunjungannya ke Muttra, tempat keluarga yang sering disebut oleh Shanti Devi, dan menyaksikan bahwa ia benar-benar mengenali sanak saudaranya yang lain dimasa lalu, mengetahui dengan detail jalan kerumahnya yang dahulu dikenalinya, dan bahkan mengungkapkan bahwa ada uang yang disembunyikannya di dalam rumah tersebut. Tempat persembunyiannya ditemukan dan bekas suaminya mengakui dia telah memindahkan uang tersebut. Jadi apa yang diceritakan oleh Shanti Devi itu memang benar-benar nyata. Sekitar 200 kasus yang diungkapkan dalam bukunya yang berhubungan dengan reinkarnasi. Demikian juga adanya cacat fisik dan kelainan prilaku dapat terjadi dari peristiwa kehidupan masa lalu seperti ; seseorang sangat takut dengan air sungai, ternyata pada kehidupan masa lalunya orang tersebut meninggal karena tenggelam. Demikian juga dengan penyakit dan cacat fisik yang diderita saat ini tidak lepas dari karma pada kehidupan yang lalu.

Banyak lagi ilmuwan barat yang telah membuktikan melalui pengamatan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah adanya reinkarnasi. Raymond A Moody dalam bukunya yang berjudul “Life after life”, menceritakan banyak pengalaman seseorang pada saat menjelang kematian (near-death experience) atau pengalaman diluar tubuh. Richard Webster telah menyusun suatu pedoman untuk mengetahui adalanya ingatan kehidupan masa lalu (past-life memories) yang cukup akurat. Ada bermacam-macam metode digunakan untuk mengetahui kehidupan masa lalunya, seperti: Ingatan spontan, khususnya anak-anak, ingatan muncul begitu saja tanpa diketahui asal-usulnya. Ingatan yang dipicu (triggered recall); ngatan dialami dengan cara yang sama seperti diatas, namun dipicu oleh suatu peristiwa. Peristiwa tersebut bisa apa saja yang tampaknya mengingatkan seseorang akan sesuatu bagian yang penting dari ingatan masa lalunya. Melalui mimpi; seseorang sering kali mendapatkan mimpi berulang-ulang yang sama sekali tidak tampak seperti mimpi biasa, atau bermimpi yang diluar pengalaman hidupn saat ini, dan kadang mimpi itu berkelanjutan. Mimpi adalah munculnya ingatan-ingatan kehidupan masa lalu dari bawah sadar, dan banyak lagi metode untuk membuktikan adanya kehidupan masa lalu. Kini banyak pakar mengembangkan pengobatan untuk beberapa penyakit yang berhubungan dengan kehidupan masa lalu (past life memory) yang disebut past life therapy dan hypnotherapy.

Jadi reinkarnasi bukanlah merupakan mitos atau mistik namun realitas pengetahuan yang lengkap tentang perjalanan panjang sang roh (spiriton). Banyak pakar dari barat mengatakan bahwa weda adalah himpunan pengetahuan yang sangat lengkap, bukan sebagai buku saku.

Karma sebagai Penyebab Utama Penyakit

Kemajuan ilmu kedokteran demikian pesatnya, penyakit yang dahulu tidak diketahui penyebabnya, kini telah ditemukan bahkan sampai pada tingkat molekuler atau tingkat DNA. Setiap kelaianan pada bagian tertentu dari untaian DNA dapat mengakibatkan gangguan terbentuknya protein seperti enzim, antibodi, hormon dan mediator lainnya, yang akhirnya dapat menimbulkan penyakit-penyakit tertentu seperti kerentanan terhadap infeksi, kelainan bawaan, penyakit gangguan mental, penyakit degeneratif, gangguan imunologis dan sebagainya. Mutasi gen, itulah jawabah yang samapi saat ini sering diungkapkan. Memang sudah dilakukan suatu proyek besar tentang pemetaan gen dari masing masing penyakit. Kembali muncul pertanyaan yang paling mendasar; “Kenapa pada seseorang terjadi gangguan untaian DNA atau mutasi, kenapa pada orang yang lain tidak. ?” Jawaban sementara karena faktor genetik dan pengaruh lingkungan seperti radiasi, nutrisi, polutant, bahan kimiawi dan sebagainya. Pengetahuan modern tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas, kekuatan dari siapakah yang melakukan mutasi pada DNA tersebut ?.” Susunan tubuh manusia begitu rumit, jaringan fungsional tubuh manusia terdiri dari sel-sel, dalam setiap sel terdapat inti, dalam inti terdapat suatu pabrik yang amat rumit, seperti juga susunan alam semesta. Pabrik-pabrik dalam inti sel tersebut bekerja dengan teratur sekali sehingga dapat menjaga keseimbangan tubuh. Karena demikian rumitnya, sangat tidak masuk akal kalau hal tersebut terjadi akibat evolusi, apalagi dikatakan terjadi kebetulan. Ada suatu rencana yang agung oleh pencipta yang Maha Mengetahui terhadap hasil ciptaanNya.

Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil yang tahu persis, kenapa untaian gen pada seseorang dilakukan manipulasi olehNYA, sehingga mendapatkan penyakit tertentu. Dalam Bhagavadgita Sri Krishna menyatakan “Akulah yang mengendalikan dunia rohani dan dunia material, segala sesuatu bergerak atas perintahKu. Itulah karma seseorang. Berdasarkan Bhagavata purana ada tiga penyebab utama penderitaan : adhidaivika-klesa ; penderitaan yang disebabkan para penguasa dunia(Dewa) seperti gempa bumi, kemarau, kekeringan, bencana alam lainnya, adhibhautika-klesa ; penderitaan yang disebabkan oleh mahluk yang lain seperti virus, parasit, kuman, serangga, musuh dan lainnya serta adhyatmika-klesa ; penderitaan oleh badan dan pkiran sendiri seperti sakit mental dan fisik, semuanya itu bersumber dari energi transedental (Bhagavatam 5.14.25). Sepereti telah dijelaskan diatas bahwa badan material merupakan simbol penderitaan, spesies manusia ada 400 000 jenis berdasarkan kesadarannya yang bermanifestasi pada badan jasmani dengan berbagai jenis penyakit. Segala yang ada di planet material dipengaruhi oleh hukum alam (cosmic justice) yaitu “Dharma – Karma – Samsara” : pelanggaran dan tindakan kita (karma) terhadap ajaran yang telah ditetapkan (dharma), pada saatnya kelahiran berikutnya akan mendapatkan hukuman (samsara) dengan memperoleh badan-badan yang sesuai. Seperti itulah rangcangan Personalitas Tuhan dalam menciptakan alam semesta dan semesta dalam tubuh manusia yang demikian rumit, hanya dengan sedikit menggeser komponen dalam gen(kromosom) akan menyebabkan gangguan pada badan dengan segala manifestasi penyakit. Karma kita pada kehidupan masa lampau dengan penyakit yang diderita saat ini sudah merupakan kesesuaian yang mutlak oleh seorang hakim yang Maha agung dan Maha adil. Hubungan karma masa lalu dengan penyakit yang akan diderita telah banyak disebutkan dalam beberapa purana. Sebagai salah satu contoh, Garuda Purana 5.3 “brahmaha ksayarogi syad go-ghnah syat-kubjako jadah kanya-ghati bhavet kustho trayas candala yonisu “, – “Pembunuh brahmana akan menderita sakit paru-paru, mereka yang membunuh sapi menjadi orang yang punggungnya menonjol dan pandir, mereka yang membunuh gadis akan menjadi lepra, ketiganya lahir sebagai candala.” Masih dalam purana yang sama disebutkan : “Orang yang sombong dengan fisiknya yang kuat dan menyalahgunakan kekuatannya untuk menindas dan berkelahi dengan orang lain akan mendapatkan badan epilepsi. “Orang yang membakar rumah dan menyebabkan orang lain meninggal, akan mendapatkan penyakit demam dan pembengkakan pada kulit serta luka melepuh pada kulit yang serius, “Orang membenci anak, membunuh dan menyakiti anak-anak akan mendapatkan badan yang mandul (infertil).

Masih banyak dijumpai hubungan karma masa lalu dengan penyakit yang diderita saat ini, hal yang perlu diketahui bagaimana kita supaya tidak mendapatkan badan-badan yang penuh penderitaan, bahkan tujuan utama pengembaraan sang roh adalah untuk mencapai kebahagian yang sejati sebagai pelayan kekal (nitya sidha prema) Personalitas Tuhan.

TUJUAN MEPELAJARI WEDA

Tujuan ilmu pengetahuan modern adalah mensejahterakan dan perdamaian umat manusia dalam level badan material yaitu dari lahir sampai mati dan dalam ruang alam material, belum pada level kesejahteraan dan perdamaian yang abadi. Tujuan utama paravidya adalah untuk mencapai pembebasan atau kembalinya mahluk hidup sebagai pelayan kekal Personalitas Tuhan di dunia rohani, disanalah kebahagiaan dan perdamaian yang kekal. Dalam Bhagavadgita dinyatakan ‘ye tu dharmamrtam idam yathoktam paryupasate sraddadhana mat-parama bhaktas te ‘tiva me priyah’ – Aku sangat mencintai orang yang mengikuti jalan bhakti yang kekal ini, tekun sepenuhnya dengan keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi. (12.20). Dalam sastra telah dinyatakan bahwa kita sebenarnya adalah pelayan kekal personalitas Tuhan YME (nitya sidha), namun kita melupakan hubungan tersebut dan sangat terikat dengan keinginan duniawi, sehingga kita dilahirkan berulang kali. Sri Krishna telah mengingatkan kepada kita hanya dengan bhakti Aku bisa didekati (bhaktya man abhijanathi – Gita 18.55). Srimad Bhagavatam telah menguraikan tentang 9 cara bhakti mulai dari yang paling sederhana ; mendengarkan, mengucapkan, memikirkan sampai menyerahkan diri sepenuhnya.

Sains modern (aparavidya) tidak menyentuh hal-hal yang bersifat transedental tentang sang roh dan tujuan kehidupan yang sebenarnya, paravidya sudah jelas bertujuan untuk membebaskan sang roh (spiriton) dari siklus kelahiran dan kematian, menginsafi jati diri kita sebagai pelayan kekal dari Personalitas Tuhan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan terhadap Personalitas Tuhan itulah bhakti yoga. Personalitas Tertinggi Sri Krishna dalam Bhagavadgita berpesan : janma karma ca me divyam vam yo vetti tattvatah tyakta devam punar janma naiti mam eti so ‘rjuna. – Orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran dan kegiatanKu, tidak akan lahir lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal.(Bg 4.9). Itulah tujuan tertinggi dalam perjalanan sang roh adalah mencapai pembebasan, hanya dengan bhakti Aku bisa didekati, demikian pesan Bhagavadgita dalam bab terakhir. Diantara lima ajaran utama wedanta : isvara, jivatman, prakrti, kala dan karma, hanya karma-lah yang disa diubah tergantung pada keinginan kita. Pada dasarnya sang roh mempunyai sifat yang sama dengan sumbernya : sat-kekal, cit-penuh pengetahuan dan ananda-penuh kebahagiaan, sang roh juga diberi kebebasan dalam memilih (free will), namun kebebasan tersebut tidak digunakan dengan baik, kita begitu terikat, sehingga kita kembali dilahirkan berulang kali ke dunia ini. Dengan pemahaman tentang reinkarnasi tersebut maka model pendekatan spiritual (spiritual care) perlu dikembangkan terhadap seseorang yang menderita sakit terutama penyakit terminal, sakit yang tidak mungkin dapat diobati dengan pengobatan modern. Walaupun tujuannya bukan untuk kesembuhan badan, namun untuk sang roh, dengan sisa waktu untuk menunggu perpindahan sang roh perlu dilakukan intervensi dengan mengubah kesadaran penderita, sehingga penderita dapat menerima penderitaannya sebagai suatu karma dan kemudian sepenuhnya sadar akan jati diri yang sebenarnya sebagai roh, dan mulai mengembangkan cinta bhakti rohani kepada Personalitas Tuhan, dengan selalu mengingat lila rohani Tuhan dan mengucapkan nama suci Tuhan. Sehingga pada saat sang roh meninggalkan badan, kita selalu ingat dan menyebut nama suci Beliau, itulah yang disebut kematian dengan bermartabat (death with dignity). Sri Krishna berpesan “pada saat meninggal engkau ingat kepadaKu, maka engkau tidak akan kembali dilahirkan lagi” Untuk memperoleh kesadaran seperti itu, maka mulailah seseorang dilatih dalam dalam bhakti-yoga dengan mengucapkan nama suci Tuhan, karena hal ini sudah direkomendasi oleh sastra weda sebagai kegiatan keagamaan yang utama untuk menghadapi Kali yuga ini.

Itulah esensi ajaran weda, pengetahuan sejati, kebenarannya telah teruji yang mengantarkan kita kepada pemahaman akan jati diri yang sebenarnya. Kehidupan sebagai manusia merupakan karunia yang luar biasa, karena diberikan kesadaran yang lebih dibandingkan dengan mahluk lainnya. Dalam sloka awal dari wedanta-sutra menyatakan : “atatho brahma jijnasa” sudah saatnya kita memahami Brahman, Personalitas Tuhan sebagai sumber segala dunia material maupun rohani, sebagai sumber segala pengetahuan. Sabdha merupakan metode yang paling unggul dalam menerima pengetahuan, yang berati disampaikan langsung melalui sumber yang otoritas sehingga pengetahuan yang murni akan sampai kepada kita. Seperti itulah sistem peradaban weda dalam menerima pengetahuan melalui rangkaian garis guru kerohanian (parampara), kalau tidak demikian kita akan larut dalam situasi yang menghayalkan, penuh spekulasi. Dalam sastra ada 4 garis perguruan rohani salah satunya adalah Brahma-Gaudya Vaisnava Sampradaya. International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia dikenal dengan Sampradaya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI) merupakan kelanjutan dari Sampradaya tersebut yang didirikan oleh AC Bhaktivedanta Swami Prabhupada secara Internasional sejak tahun 1965 di Amerika.

– Kapanpun, dimanapun pelaksanaan darma merosot, dan hal yang bertentangan dengan darma merajalela, pada waktu itu AKU sendiri menjelma, wahai putra keluarga Bharata.(Gita 4.7). Sloka tersebut merupakan pernyataan Personalitas Tuhan kehendakNya untuk turun ke bumi. Bhagavadgita dan beberapa purana lainnya seperti; Bhagavata purana, Bhavisya purana ditulis oleh, Srila Vyasadeva sebagai Saktyavesa avatar dari Tuhan, sekitar 5000 tahun yang lalu. Dari sloka diatas menunjukkan bahwa Personalitas Tuhan akan langsung turun dari dunia rohani yang kekal (Goloka vrindawan) atau mengirim utusan-utusan yang dikuasakan ke planet bumi. Benarkah hal itu terjadi ?. Turunnya Tuhan ke planet material disebut avatara, dikenal ada beberapa avatara seperti : Purusha, Lila, Guna, Yuga, Manavatar, dan Shaktyavesa avatara. Semua avatara dan jadwal turunNya Personalitas Tertinggi Tuhan tersebut telah dicantumkan secara lengkap dalam Bhagavata purana dan Bhavisya purana. Apa yang tertera dalam purana tersebut ternyata benar terjadi. Personalitas Tuhan telah berkali-kali turun ke dunia material dari tempat tinggal Beliau yang kekal, selain Beliau sendiri yang turun dapat juga mengutus roh-roh yang agung untuk tujuan tertentu yang dikuasakan penuh (saktyavesa) seperti Srila Vyasadeva, Bhuda, Nabi Isa (Yesus), Nabi Muhamad, Sri Caitanya Mahaprabhu, Sankaracarya dan sebagainya. Seperti kemunculan Buddha dinyatakan ”

(Hamba lahir dalam kebodohan yang paling gelap, kemudian Guru Kerohanian hamba membuka

mata hamba dengan pelita pengetahuan. Hamba bersujud dengan hormat kepada Beliau)

Posted in Uncategorized | No Comments »
BUNUH DIRI DARI PERSPEKTIF KARMA DAN REIKARNASI
February 1st, 2007 by iskcon-surabaya
BUNUH DIRI DARI PERSPEKTIF KARMA DAN REIKARNASI

Made Wardhana

PENDAHULUAN

Meningkatnya kejadian bunuh diri di kalangan anak dan remaja, mirip burung kenari yang berfungsi sebagai sentinel dalam terowongan tambang batu bara. Kematian burung merupakan tanda sedikitnya oksigen. Bunuh diri pada remaja itu merupakan barometer adanya suatu ketidakmampuan anak dan remaja dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi, kurangnya mekanisme koping yang dimiliki dalam mengatasi stres. Hal ini juga menjadi bukti dari kegagalan para orang tua dan pendidik untuk membekali anaknya dengan keterampilan hidup.

Bunuh diri pada remaja erat kaitannya dengan kekacauan dalam keluargaImages yang berkepanjangan, kekerasan (verbal, motorik dan emosional) dalam keluarga, penolakan anak oleh orang tua serta ketidakmampuan orang tua mengembangkan keterampilan anak dalam mengatasi berbagai masalah stresor. Anak dan remaja berisiko lebih besar untuk bunuh diri bila mereka dibanjiri oleh situasi yang kacau, penganiayaan dan pengabaian. Hasil dari eksposure penganiayaan dan kekerasan pada anak dan remaja terus menerus dapat menampilkan perilaku agresif, mencederai diri dan perilaku bunuh diri.

Prevalensi bunuh diri pada anak dan remaja dalam satu tahun antara 1,7 – 5,9% dan untuk selama hidup antara 3,0 – 7,1%. Diperkirakan 12% dari kematian pada kelompok anak dan remaja disebabkan karena bunuh diri. Keberhasilan bunuh diri pada remaja laki-laki 5 kali lebih besar dibandingkan wanita, meskipun untuk percobaan bunuh diri pada remaja wanita 3 kali lebih banyak dibandingkan remaja laki-laki. Ide-ide bunuh diri bukan merupakan fenomena yang statis dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Keputusan untuk bunuh diri dapat muncul tiba-tiba (impulsif) tanpa banyak dipikirkan terlebih dahulu atau keputusan merupakan puncak dari kesulitan atau kebingungan yang berkepanjangan.

Bunuh diri pada anak dan remaja sering berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat. Faktor pencetus yang mendahului tindak bunuh diri pada anak dan remaja umumnya karena:

* Konflik dan pertengkaran dengan anggota keluarga (adik, kakak atau orang tua).

* Menghindari atau antisipasi terhadap hukuman, misal dari orang tua, guru atau polisi karena

kesalahan yang dibuatnya.

* Kehilangan muka atau dipermalukan di depan teman-temannya.

* Pertengkaran dengan pacar atau putus cinta.

* Kesulitan di sekolah baik akademis, hubungan interpesonal atau keuangan.

* Perpisahan dengan orang yang berarti bagi dirinya.

* Penolakan baik oleh orang tua, teman atau lingkungannya.

Dari kenyataan di atas beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan disarankan antara lain memberikan pengetahuan dan keterampilan pada orang tua dan guru Edila21 tentang bunuh diri pada anak dan remaja serta faktor-faktor yang terkait, agar dapat dilakukan pencegahan. Selain itu perlu pula dilakukan penelitian untuk mengetahui “Adakah hubungan antara maraknya berita-berita bunuh diri pada anak dan remaja di media

dengan semakin meningkatnya kasus-kasus bunuh diri pada anak dan remaja?” Bila ini terbukti, berita seperti apa yang berpengaruh?***

Penelitian yang dilakukan terhadap 39.000 orang, ditemukan bahwa kemurungan, kelesuan yang melumpuhkan, rasa ditolak, keputusasaan dan bunuh diri telah dimulai pada usia yang semakin lama kian dini (semakin muda). Dari penelitian itu diketahui pula bahwa meningkatnya kasus-kasus depresi dan bunuh diri erat kaitannya dengan situasi krisis (politik, sosial, ekonomi dan moral), pengangguran, kemiskinan, persaingan yang keras dan kriminalitas.

Kegagalan dalam dalam menangani kasus percobaan bunuh diri adalah sangat mendasar adalah belum memahaminya konsep dan arti hidup ini secara mendalam. Dengan kata lain usaha usaha yang dilakukan untuk meminimalisasi kasus bunuh diri hanyalah dari aspek badaniah dan emosional saja belum menyentuh hal yang secara lengkap sebagai individu. Pemahaman sang roh sebagai sumber kehidupan belum dieksplorasi secara lengkap seperti; siapa diri kita, kenapa terjadi penderitaan duniawi ini, apa itu reinkarnasi atau transmigrasi sang roh, bila melakukan sesuatu saat ini bila kemudian hari berreinkarnasi kembali, badan apakah yang akan didapat. Dan sebagainya.

Dalam makalah singkat ini akan diuraikan secara singkat tentang perjalanan sang jiwa dengan mengendarai badan-badan material ini dan badan apa yang didapatkan kelak bila seseorang yang melalukan bunuh diri.

SANG ROH DAN REINKARNASI

Reinkarnasi, samsara, atau punarbawa bukanlah istilah yang dimiliki oleh golongan masyarakat tertentu, tetapi sudah menjadi milik universal. Kalau dahulu banyak yang menganggap reinkarnasi merupakan tahayul atau mistik, namun saat ini sudah merupakan istilah yang umum digunakan dimana-mana. Apalagi setelah banyak ilmuwan melakukan penelitian ilmiah tentang reinkarnasi. Penelitian ilmiah tentang reinkarnasi mungkin akan melahirkan paradigma baru terhadap fenomena alam yang tidak dapat dijelaskan melalui teori ilmiah saat ini. Seperti keaneka ragaman bentuk makhluk hidup, kemampuan bawaan, nuansa kejiwaan dan lainnya, tidak dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan modern.

Fenomena-fenomena yang berhubungan dengan reinkarnasi memang sulitCdbi dibuktikan dengan metode empiris, namun para ilmuwan mempelajarinya melalui gejala adanya beraneka bentuk badan material dan gejala adanya sang roh yang merupakan partikel rohani yang memberikan daya hidup kepada setiap mahluk. Sama seperti seorang akhli jiwa dan psikiater yang mempelajari prilaku manusia yang berhubungan dengan adanya jiwa. Mereka sendiri tidak mengetahui tentang jiwa, tetapi mengamati gejala-gejala adanya jiwa dengan manifestasinya. Reinkarnasi sebagai suatu proses perpindahan sang roh dari satu badan ke badan lainnya merupakan pengetahuan yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Kitab Bhagavadgita merupakan dialog langsung antara Personalitas Tertinggi Sri Krishna dengan Arjuna yang terjadi sekitar 5000 tahun lalu ditanah Kuruksertra merupakan sumber pengetahuan tentang reinkarnasi. Dalam kitab tersebut diuraikan dengan jelas tentang sang roh yang merupakan percikan api rohani, bersifat kekal. Berbeda dengan badan material yang bersifat sementara, juga diulas secara mendalam tentang proses pergantian badan, sehingga mendapatkan beraneka badan material. Oleh karena itu, untuk memahami reinkarnasi hendaknya memahami dahulu tentang sang roh. Badan-badan baru yang didapat sangat dipengaruhi oleh hukum alam yang dikendalikan oleh Personalitas Tertinggi.

Sebagai ilustrasi, setiap masyarakat atau negara mempunyai sistem yang mengatur masyarakatnya dalam berperilaku. Sistem tersebut dikenal sebagai; legislatif(produk undang-undang), eksekutif (pelaksana) dan yudikatif(peradilan, penjara). Demikian juga dalam negara dan masyarakat super besar yaitu alam semesta yang dikendalikan oleh Personalitas yang Mahakuasa, Mahaadil, Mahabijaksana. Hukum alam dalam skala kosmik (Cosmic Justice) disebut; Dharma-Karma-Samsara. Telah disiapkan Dharma, aturan-aturan yang hendaknya digunakan sebagai pedoman, Karma, sebagai perilaku yang membuahkan hasil, dan samsara sebagai suatu proses pergantian badan yang berulang kali sebagai akibat dari karma tersebut.

beraneka badan material dengan segala penderitaannya seperti; cacat bawaan, gangguan mental dan penyakit fisik lainnya. Jadi badan dapat dikatakan sebagai penjara yang mengurung sang roh dengan karmanya, ada beraneka penjara badan material tergantung sifat alam dan karma masa lalunya.

KITA INI BUKAN BADAN

Bila kita berbicara tentang konsep hidup dan kehidupan, maka cobalah dengan mengajukan pertanyaan sederhana kepada diri kita. Siapakah diri kita sebenarnya? Dari mana kita berasal? Apa tujuan hidup ini? Ada yang mengaku saya orang kaya, ada yang mengaku saya orang kuat, ada yang mengaku saya dari Amerika, Indonesia dan sebagainya. Pengakuan tersebut memproyeksikan badannya sebagai dirinya. Dalam Bhagavadgita disebutkan : mamaivamso jiva-loke jiva-bhutah sanatanah manah-sasthanindriyani prakrti sthani karsati – mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal dariKu, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran(Bg. 15.7).

Srila Prabhupada, salah seorang guru kerohanian dari Brahma-vaisnava sampradaya, yang terkenal abad ini, menekankan sloka tersebut bahwa semua mahluk hidup termasuk manusia adalah percikan kekal dari Personalitas Tertinggi Tuhan. Semua mahluk hidup berasal dari sumber yang sama dan karena kekeliruannya mengembangkan kehendak bebasnya dan terikat oleh sifat alam menjadi jatuh kedunia material dengan mendapat beraneka badan material. Percikan api rohani bersifat rohani, kekal, tidak diciptakan, tidak pernah musnah dan selalu mengembara dari badan satu ke badan yang lainnya yang beraneka jenis badan yang telah disiapkan dengan proses penciptaan. Dalam Bhagavadgita dinyatakan: ”seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak, masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lainpada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu”(Gita 2.13). Demikian juga kalau kalau badan sudah rusak dan tidak dapat dipakai maka sang roh akan pindah mencari badan lainnya seperti halnya seseorang memakai jas baru dan menanggalkan jas lama yang sudah usang demikian seterusnya. Jenis badan-badan yang akan didapatkan sangat tergantung dari pikiran dan kesadarannya pada saat meninggalkan badan. ”Mahluk hidup pindah dari satu badan ke badan lainnya dengan membawa kesadaran masing-masing, seperti udara yang membawa jenis bau-bauan tertentu. Berdasarkan kesadaran demikian mahluk hidup meninggalkan badan dan menerima badan baru yang lain.(Bg 15.8). Perpindahan sang roh dari satu badan ke badan lainnya disebut reinkarnasi atau samsara. Reinkarnasi adalah hukum alam yang bersifat universal untuk setiap mahluk siapa saja.

Jadi sesungguhnya diri kita yang sejati adalah sang roh (aham brahma asmi) aku adalah roh, bukan badan, oleh karena keterikatan dengan sifat alam (triguna) maka jatuh ke alam material dengan menerima badan-badan material berulang kali. Dalam Bhagavadgita bab dua telah panjang lebar diuaraikan bahwa sang roh adalah kekal tidak dapat dibunuh walaupun badan terbunuh, tidak diciptakan dimasa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Walaupun badan berubah dari bayi, anak, dewasa dan menjadi tua maka sang roh yang ada didalamnya adalah sama. Demikian juga bila sang roh meninggalkan badan dan mendapatkan badan yang baru lagi, sang roh tetap sama sebagai tenaga spiritual Tuhan(Visnu sakthi). Ukuran sang roh sangat kecil sebesar seperseratus ribu dari ujung rambut sehingga sangat sulit dilihat. Seperti halnya partikel-pertikel atom listrik yang mengalir pada sebuah kabel, kita tidak dapat melihat ada aliran listrik, tetapi kita dapat mengatahui bahwa listrik tersebut dapat memanaskan air, dapat menjalankan mesin dan sebagainya.

Dalam manifestasinya sang roh dibungkus dan dikawal oleh badan kasar dan badan halus. “Bhumir apo ‘nalo vayuh kham mano bhudir eva ca ahankara itiyam me bhinna praktir astadha – Tanah, air, api, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga material yang terpisah dariku(Bg. 7.4). Badan kasar yang disebut panca mahabhuta teridiri dari lima unsur dan badan halus terdiri dari manah (pikiran), budhi (kecerdasan) dan ahangkara (keakuan palsu) ketiga ini disebut tripremana. Keduanya merupakan tenaga material Tuhan (bahirangga sakti). Dengan demikian kita dapat mengetahui mana yang kekal dan mana yang tidak kekal dalam diri kita. Sang roh (tathasta sakti) yang kekal dan badan yang selalu berganti-ganti.

REINKARNASI DAN PERGANTIAN BADAN

Teori evolusi

mengandung banyak kelemahan karena memandang mahluk dari aspek material atau bentuk fisiknya saja. Setiap mahluk hidup memiliki san roh (spiriton), gejala adanya sang roh adalah ‘kesadaran’, berkembang biak, mencari makan, mempertahankan diri dan sebagainya. Yang terjadi sebenarnya adalah evolusi kesadaran atau spiritual. Dalam Brahma-vaivarta Purana dinyatakan ‘asitim caturas caiva laksams tan iva-jatisu, bhramadbhih purusaih prapyam manusyam janma paryayat, tad apy aphalatam jatah tesam atmabhimaninam, varakanam anasritya govinda-carana-dvayam’ – “Seseorang mencapai bentuk kehidupan manusia setelah bertransmigrasi melelaui 8.400.000 spesies dengan proses evolusi gradual. Bahwa bentuk kehidupan manusia dapat menjadi kurang bijaksana dan angkuh yang tidak berlindung kaki padma Govinda(

Krishna

).” Selanjutnya dalam Padma Purana ; jala-ja nava-laksani sthavara laksa vimsati, krmaya rudra-sankhyakah paksinam dasa-laksani, pasavas trimsa-laksani manusya catur-laksani – ada 900.000 spesies yang hidup di air; 2.000.000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan; 1.100.000 spesies serangga; 1.000.000 spesies kehidupan burung; 3.000.000 spesies binatang buas; dan 400.000 spesies kehidupan manusia.”

Pengetian spesies disini berbeda dengan yang dikemukanan ahli biologi yang berarti bentuk badan material. Namun pengertian dalam sastra didasarkan pada tingkat kesadaran, ada 400.000 spesies manusia, yang dimaksud adalah tingkat kesadaran yang berbeda.

Proses evolusi ini melalui 8.400.000 spesies kehidupan, yang telah berlangsung sejak waktu berabad-abad yang lalu. Seperti disebutkan diatas bahwa sang roh tidak pernah musnah, san roh selalu bertransmigrasi dari satu badan ke badan lain, seperti seorang memakai baju-baju baru, dan meninggalkan yang lama yang usang, begitu juga sang roh menerima badan-badan yang baru. Dengan cara demikian sang roh bertransmigrasi. Dengan sederhana dapat dikatakan bahwa bdan-badan material ini merupakan penjara-penjara yang siap dihuni oleh sang roh dengan aneka kesadaran saat kehidupan sebelumnya.

Kesempatan mendapatkan badan manusia merupakan karunia yang luar biasa, karena memiliki kesadaran, kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan badan yang lebih rendah. Dalam Vedanta-sutra menyatakan ‘athato brahma-jijnasa – ‘oleh karena itu, sekarang, saatnya untuk bertanya tentang realitas Brahman.’ Siapakah diri saya? Apa tujuan hidup ini, kenapa ada aneka penderitaan dalah hidup ini? Apa tujuan terakhir dari hidup ini? Pertanyaan mendasar kenapa ada aneka penderitaan dan penyakit material, karma-karma pada kehidupan masa lalu menentukan bentuk kehidupan saat ini dan karma saat ini akan mempersiapkan badan-badan material untuk kehidupan yang akan datang. Dalam Bhagavadgita dan Bhagavata purana banyak sekali penjelasan mengenai reinkarnasi dan merupakan sumber utama untuk mempelajari reinkarnasi. Dikisahkan juga beberapa peristiwa yang terjadi dimasa lalu tentang Rsi-rsi agung yang jatuh mendapatkan badan yang lebih rendah karena pikirannya terikat dengan dunia material.

BUKTI ILMIAH REINKARNASI

Bukti ilmiah tentang hubungan penyakit saat ini atau cacat lahir yang berhubungan dengan kehidupan masa lalunya telah diungkapkan oleh Dr. Ian Stevensson, seorang psikiater dari Universitas Virginia Amerika. Dari hasil pengamatannya selama tidak kurang 30 tahun dan disusun dalam beberapa bukunya seperti; Children Past Lives, Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, Where Reincarnation and Biologiy Intersect. Dalam contoh kasus yang diteliti secara signifikan menunjukkan adanya cacat lahir dan beberapa penyakit yang berhubungan dengan kehidupan masa lalunya. Demikian juga Raymond A Moody, salah satu diantara banyak ilmuwan yang tekun meneliti reinkarnasi dalam bukunya yang berjudul ”Life after life”, yang menceritakan banyak pengalaman seseorang pada saat menjelang kematian (near-death experience), hal itu menunjukkan adanya kehidupan setelah kematian. Perkembangan berikutnya banyak peneliti dari berbagai perguruan tinggi melakukan pengamatan terhadap fenomena reinkarnasi atau kehidupan masa lalu(past live). Banyak jurnal ilmiah seperti; The scientific exploration, Journal of Neuroscience & Mental Health, yang melaporkan fenomena reinkarnasi dengan pendekatan ilmiah. Berbagai cara yang populer digunakan oleh para peneliti untuk membuktikan adanya kehidupan masa lalu, seperti:

Déjà vu. Istilah Deja Vu ini sudah ada sejak jaman dahulu kala dan sudah sering dipublikasikan di berbagai tulisan, literatur, maupun film. Istilah tersebut diperkenalkan pertama kali oleh seorang peneliti Prancis, Emile Boirac(1851 – 1917) yang artinya Already Seen atau Promnesia, istilah untuk menggambarkan sebuah perasaan bahwa seseorang telah mengalami suatu keadaan yang baru beberapa waktu sebelumnya. Seseorang seperti telah mengenal atau mengalami suatu peristiwa sebelumnya. Fenomena tersebut merupakan bangkitnya ingatan masa lalu yang sulit digambarkan.

Ingatan Spontan. Umumnya terjadi pada anak-anak, dengan ingatan muncul begitu saja tanpa diketahui asalnya. Bayang-bayang dan suasana dapat muncul dalam ingatan dan subyeknya kadangkala dapat merasakan bahwa mereka sendiri adalah bagian dari ingatan tersebut.

Mimpi-mimpi. Seseorang sering kali mimpi dengan pengalaman yang sama sekali tidak pernah dialaminya. Mimpi-mimpi tertentu dapat menggambarkan pengalaman masa lalunya atau kehidupan masa lalu (past live).

Hipnotis. Hipnotis merupakan teknik komunikasi yang dapat mempengaruhi alam pikir bawah sadar, sehingga seseorang yang terhipnotis dapat mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Cara ini telah digunakan puluhan tahun untuk terapi psikiatris, di negara barat lebih dikenal dengan nama past live regresion therapy. Penelitian Ian Stevenson banyak mempergunakan cara ini sehingga seseorang dapat menceritakan pengalaman kehidupan masa lalunya, kemudian dicari alibinya, dicocokkan dengan hasil rekamannya.

Banyak lagi cara yang dianggap akurat untuk menilai adanya kehidupan masa lalu, dengan demikian reinkarnasi merupakan suatu fakta ilmiah bukan sekedar mistik atau tahyul. Seperti sastra mengatakan bahwa pengembaran sang roh didampingi oleh badan halus(pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu) badan halus inilah yang menampung semua memori selama perjalanan sang roh.

KARMA SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT

Kemajuan ilmu kedokteran demikian pesatnya. Penyakit-penyakit yang dahulu tidak diketahui penyebabnya, kini telah ditemukan bahkan sampai pada tingkat molekuler yaitu molekul chromosome dan DNA(deoxynucleic acid) yang merupakan molekul terkecil dalam inti sel, sebagai pusat informasi kehidupan. Susunan DNA tertentu akan menghasilkan zat-zat fungsional tertentu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia, seperti; enzim, hormon, zat kekebalan dan protein lainnya. Ada yang mengatakan bahwa DNA itulah kehidupan, sesungguhnya tidak, DNA tetap saja unsur kimia yang bersifat material. Terjadinya penyakit tertentu sebagai akibat adanya gangguan terbentuknya zat-zat fungsional tersebut sehingga menyebabkan kelainan pada fisik(penyakit). Gangguan terbentuknya protein-protein tersebut telah diketahui akibat terjadi gangguan mesin produksi di dalam untaian DNA. Kembali muncul pertanyaan yang paling mendasar, siapakah yang menyebabkan terjadi kelainan DNA tersebut? Ilmu kedokteran modern belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa ada beraneka jenis badan; berbadan sehat, berbadan cantik, menderita sakit fisik tertentu, menderita sakit jiwa, cacat lahir, dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut sepenuhnya belum ada seorang ahli yang bisa menjawab. Personalitas Tertinggi Tuhan yang pasti bisa menjawabnya.

Banyak penyakit masih mengandung misteri yang sulit diungkapkan, seperti tuberkulosis, kusta, kanker, penyakit degeneratif dan lainnya. Parameter adanya penyakit berdasarkan penyamatan obyektif atas fakta-fakta empiris di laboratorium saja, atau berdasarkan kelainan organobiologis. Pengetahuan kita tentang sang roh dan transmigrasi sang roh sangat terbatas. Sang roh sebagai partikel rohani merupakan percikan kekal dari Tuhan disebut spiriton. Istilah spiriton diperkenalkan oleh HH Bhaktisvarupa Daomada Swami pada setiap kesempatan sebagai penbicara dalam pertemuan internasional tentang Sains dan Spiritualitas. Disebut spiriton untuk membedakan dengan struktur sub atomik dari proton, elektron yang merupakan partikel dari tenaga material. Seperti dijelaskan diatas bahwa manusia terdiri dari; spiriton (sang jiva) sebagai tenaga rohani, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu sebagai tiga badan halus yang selalu menyertai kemana sang roh bertransmigrasi, serta badan kasar yang terdiri dari lima unsur material. Sang roh bersifat kekal, badan kasar selalu berganti. Telah disediakan berbagai aneka badan bagi sang roh sesuai dengan tingkat kesadarannya. Jadi badan merupakan penjara-penjara yang siap dihuni oleh sang roh dari berbagai tingkat kesadaran. Mendapatkan badan material merupakan penderitaan dengan berbagai manifestasinya, cacat, ganggual mental, sakit fisik dan sebagainyaa. Karma atau perbuatan di masa lalu akan menentukan jenis badan yang akan datang, hal ini sangat dipengaruhi oleh sifat alam (triguna).

Hubungan karma masa lalu dengan penyakit yang diderita saat ini telah banyak diuraikan dalam beberapa purana, terutama dalam Garuda purana sebagai contoh:

brahma ksayarogi syad go-ghnah syat-kubjako jadah kanya-ghati bhavet kustho trayas candala yonisu – membunuh brahmana akan menderita sakit paru-paru, pembunuh sapi akan mendapat badan yang punggungnya pungkuk dan pandir, mereka yang membunuh gadis akan akan menjadi lepra, ketiganya lahir sebagai candala(Garuda Purana V.3).

yaksa raudropajivi ca marge sarthan vilumpati mrgayavyasani yas tu chagah syad dadhika grhe – orang yang hidup dengan kekerasan, merampok, suka berburu, pasti akan menjadi domba dirumah pembantaian (Garuda Purana V.15).

Orang yang sombong dengan fisiknya yang kuat dan menyalahgunakan kekuatannya untuk menindas dan berkelahi dengan orang lain, akan menderita penyakit epilepsi.

Orang yang membakar rumah dan menyebabkan orang lain meninggal, akan mendapatkan penyakit demam dan pembengkakan pada kulit dan melepuh di kulit.

Orang yang menghina kebesaran Tuhan, dan orang yang mengatakan para pendeta adalah orang gila dan kitab suci adalah tidak masuk akal, akan mendapatkan kanker lidah dan menjadi bisu.

Merampok hak milik orang dan menembak orang, akan menjadi korban pada saat terjadi penyebaran penyakit dan akan menderita setiap saat terhadap penyakit yang sering kambuh.

Seseorang yang menyakiti anak-anak, membenci anak-anak, bahkan membunuhnya akan mendapatkan badan yang mandul (infertil).

Garuda purana

2.22.3; Seseorang yang melakukan kegiatan berdosa yang sangat kejam akan menjadi setelah mati. Dengarkanlah saya akan memaparkan secara detail.

2.22.4-5; Dia yang menajiskan kolam penampungan air, danau, taman, taman suci, air sungai, hutan, tempat penampungan orang miskin, dan mnyesatkan orang dari upacara keagamaan dan mengumpulkan banyak uang adalah seorang pendosa. Setelah kematiannya akan menjadi hantu dan tetap seperti itu sampai akhir zaman.

2.22.8-13; Seseorang yang mengalami kematian yang tidak wajar seperti; bunuh diri dengan cara menggantungkan diri diatas pohon, dengan racun ataupun dengan senjata. Seseorang yang membakar diri hidup-hidup sampai mati, mati karena penyakit-penyakit menjijikkan. Seseorang yang tidak dikremasi saat meninggal, seseorang yang jatuh dari ketinggian dan meninggal, atau meninggal karena gigitan anjing akan menjadi hantu setelah meninggal.

Pernyataan diatas adalah sedikit cuplikan dari banyak sloka yang berhungungan dengan karma masa lalu dan penderitaan badan (penyakit) kelak. Demikian juga kegiatan yang berdosa yang kita lakukan saat ini akan menentukan penyakit dan penderitaan pada kehidupan yang akan datang.

PENDEKATAN BIOPSIKOSOSIO-SPIRITUAL

Konsep sehat oleh World Health Organization memberikan batasan sehat dari 3 dimensi, sehat dalam arti fisik (organobiologik), mental (psikologik) dan sehat dalam arti sosial, namun sejak 1984 batasan tersebut dikembangkan dengan melibatkan aspek spiritual, yang lebih dikenal dengan biopsychosocial-spiritual model. Hal tersebut sesuai dengan komponen manusia secara utuh dengan komponen fisik, psikhis dan spiritual (sang roh, sebagai identitas sejati). Seseorang yang menderita sakit, selain menderita secara fisik, dan psikologis juga sangat menderita dalam arti spiritual. Terutama pasien terminal yaitu penyakit khronis(menahun) dan tak mungkin dapat disembuhkan dengan pengobatan medis seperti ; kanker, sakit ginjal kronis, infeksi berat, kencing manis, sakit jantung dan sebagainya. Pasien akan merasakan spiritual pain. Kenapa Tuhan memberi penderitaan seperti ini? Apalah artinya hidup ini? Kenapa Tuhan tidak menunjukkan keadilan lagi? Oh .. Tuhan ambilah nyawa saya! Banyak lagi pertanyaan serupa yang menunjukkan adanya spiritual pain. Disinilah peran pendekatan spiritual yang bertujuan untuk lebih memahami arti hidup yang sesungguhnya, pasrah sepenuhnya, menyerahkan diri kepada Tuhan. Seseorang tidak akan lepas dari penderitaan material; kelahiran, usia tua, sakit dan akhirnya meninggal(perpindahan sang roh), semua ajaran agama telah memberikan petunjuk bagaimana menyambut perpindahan sang roh tersebut agar badan yang akan didapatkan kelak meningkat secara spiritual dan bahkan mencapai planet yang paling tinggi yaitu planet rohani. Dalam kitab agama manapun tersirat bahwa sang roh akan mencapai tempat tertinggi bila pada saat meninggal kesadaran kita dalam suasana iman dan taqwa (sradha dan bhakti), seseorang pada saat menghembuskan nafas terakhir ingat kepada Tuhan dan menyebutkan nama-nama suci Tuhan, maka sang roh akan bebas dari lingkaran kelahiran-kematian. Dalam Bhagavadgita disebutkan bahwa pikiran seseorang menjelang meninggal sangat mempengaruhi jenis kehidupan yang akan datang. “Keadaan apapun yang diingat seseorang pada saat meninggalkan badannya, keadaan itulah yang akan dicapai”(Bg 8.6). Dengan demikian badan yang akan didapat kelak sangat dipengaruhi oleh pikiran, mungkin akan lahir dengan badan manusia, mungkin mendapat badan yang lebih rendah atau mungkin badan yang lebih tinggi seperti para Dewa. Sri Krishna bersabda: ”janma karma ca me divyam evam yo vetti tattvatah tyakta devam punar janma naiti mam eti so ‘rjuna.” – orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran, kegiatanKu tidak akan dilahirkan lagi didunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal, wahai Arjuna. (Bg 4.9). Itulah tujuan utama dari kehidupan, terminal terakhir dari pengembaraan sang roh adalah melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian, kembali kepada sumbernya yang asli sebagai pelayan kekal Sang Maha Pencipta, Personalitas Tuhan.

Metode pendekatan spirutual telah banyak dilakukan di beberapa rumah sakit besar di dunia, dan telah dipublikasikan di majalah ilmiah kedokteran international seperti New England Journal of Medicine, British Medical Journal dan lainnya, dengan hasil yang memuaskan. Seorang pasien kanker atau penyakit terminal lainnya, dengan pendekatan spiritual berhasil memperpanjang hidup, meningkatkan kwalitas hidup, mengurangi rasa sakit dan mengurangi tingkat stresnya. Pasien dengan HIV, dengan pendekatan spiritual berhasil meningkatkan kekebalan tubuhnya dengan meningkatnya sel T helper. Banyak lagi hasil penelitian peran pendekatan spiritual dengan tujuan untuk meningkatkan kwalitas hidup dan kwalitas mati pasien (peaceful dying).

Pendekatan spiritual sering disebut sebagai bimbingan spiritual, bimbingan rohani, konseling spiritual, konseling pastoral dan sebagainya, adalah upaya dengan sadar dan teratur mendampingi pasien untuk meningkatkan kesadaran menjelang kematian. Hal tersebut hanya dapat dicapai dengan menyucikan badan material kita. Sesuai dengan sastra proses penyucian tersebut dapat dilakukan dengan melantunkan mantera suci dengan tulus. Matera penyucian di zaman Kali sekarang menurut Kalisantarana upanisad adalah maha mantra : Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama, Rama Rama Hare Hare. Dilantunkan dengan penuh riang maka benih pengetahuan, bibit bhakti yang ada dalam hati akan tumbuh berkembang, itulah resep yang dianjurkan untuk zaman sekarang.*

Refferences

1. Damodara, BS. 1996. The Scientific Basis of Consciousness. The Bhaktivedanta Book Trust,

Mumbai

,

India

:

2. Damodara , BS. 1988. The Principle of Reincarnation in Consciousness The Missing Link. The Bhaktivedanta Book Trust.

,

India

. P. 57-68

3. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Bhagavadgita Menurut Aslinya (terjemahan)

4.

I.

1997. Where Reincarnation and Biologiy Intersect. Praeger Publisher.

London

5.

I.

1974. Twenty Cases Suggestive of Reincarnation. University Press of

Virginia

,

Charlottesville

. P

6. Moody RA. 1975. Life After Life. Mockingbird

,

Georgia

.

7. Webster R. 2001. Past-life Memories: Twelve Proven Methods. Llewellyn Publications.

,

Minnesota

.

8. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1995. A Second Change : The Story of a Near-Death Experience. Bhaktivedanta Book Trust.

,

India

.

9. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1995. Life Comes From Life. Bhaktivedanta Book Trust.

,

India

.

10. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. 1984. Coming Back: The Science of Reincarnation. Bhaktivedanta Book Trust.

,

India

.

11. Haraldsson E. 2000. Birth Mark And Claims of Previous-life Memories : I. The Case of Purnima Ekanayake. J of Society for Psychical Res 64/1 : 16-25.

Mumbai

Mumbai

Mumbai

St. Paul

Book

Stevenson

Stevenson

Mumbai

Krishna

Darwin

Ada

massa

Posted in Religion | 3 Comments »
KITA INI BUKAN BADAN
January 24th, 2007 by iskcon-surabaya

dehi nityam avadhyo ‘yam dehe
sarvasya bharata

tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi

“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah
kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk
makhluk apapun”. (Bg.2.30).

Langkah pertama dalam
keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan.
Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan
syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani
diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,”
tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini
nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya
tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran
yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badanRadhagovindagaurangaprabhupada jasmani.
Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi
kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang
dasar sebagai kesadaran yang suci.

Kalau kita masih mempunyai
pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti
persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang
menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan
sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari
segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi
sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan
bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan
tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang
dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi
dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga
unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan
dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena
kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap
masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita
ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi
dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh
itu.

Adanya kesadaran tidak
dapat ditolak. Sebuah tubuh tanpa kesadarannya adalah mayat. Selekas kesadaran
itu diambil dari badan, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat,
mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, dan kuping tidak bisa
mendengarn. Anak-anak pun dapat mengerti hal itu. memang benar bahwa, adanya
kesadaran merupakan syarat mutlak untuk menggerakkan badan. Apa artiny
kesadaran itu ? Seperti halnya pemanas atau asap merupakan gejala-gejala dari
api, begitu pula kesadaran merupakan gejala dari roh. Tenaga dari roh atman
dihasilkan dalam bentuk kesadaran. Memang, adanya kesadaran membuktikan adanya
roh. Filsafat ini tidak hanya disebut dalam Bhagavad-gita saja, tetapi juga
merupakan kesimpulan dari semua Pustaka Suci Veda.

Prabupada_2
Para penganut Sankaracarya
yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, beserta pula para Vaisnava yang
mengikuti garis perguruan rohani dari Sri Krsna, mengakui adanya roh sebagai
kenyataan, tetapi ada suatu golongan ahli Filsafat yang tidak mengakui adanya
roh. Penganut-penganut Filsafat tersebut menyatakan bahwa, pada suatu tingkatan
kombinasi dari unsur-unsur alam menghasilkan kesadaran, tetapi pendapat itu terbukti salah oleh kenyataan bahwa,
walaupun segala bahan-bahan alam tersedia, kita tidak dapat menghasilkan
kesadaran dari unsur-unsur itu. semua unsur alam barang kali ada dalam sebuah
mayat, tetapi kita tidak sanggup menghidupkan mayat itu sehingga menjadi
sadara. Badan ini tidak seperti mesin. Apabila suatu bagian dari sebuah mesin
menjadi rusak, maka bagian itu dapat titukar, dan mesin itu dapat bekerja lagi.
Tetapi apabila badan menjadi rusak dan kesadaran keluar dari badan, maka tidak
mungkin kita menukar bagian badan yang rusak dan menghidupkan kembali
kesadarannya. Roh itu lain daripada tubuh, dan selama roh masih ada, badan bisa
bergerak, tetapi tidak mungkin menggerakkan badan kalau tidak ada roh.

Oleh karena kita belum
dapat melihat roh dengan memakai indria-indria kita yang kasar, kita tidak
mengakui adanya roh. Banyak sekali hal-hal yang diluar kesadaran kita, namun
hal-hal itu benar-benar ada, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita belum bisa
melihat udara, siaran radio, suara, ataupun
bakteri-bakteri yang sangat kecil dengan memakai indria-indria kita yang kasar.
Tetapi ini tidak berarti hal-hal tersebut tidak ada. Dengan memakai mirkoskop
dan alat-alat yang lain, banyak sekali benda-benda yang dapat dilihat, padahal
adanya benda-benda itu dahulu kala tidak diakui oleh indria-indria yang kurang
sempurna. Hendaknya kita jangan menarik kesimpulan bahwa tidak ada roh yang
ukurannya sekecil atom hanya karena roh belum dapat dilihat oleh indria-indria
ataupun dengan memakai alat-alat. Akan tetapi adanya roh itu dapat dimengerti
dari gejala-gejala dan hasi-hasilnya.

Dalam Bhagavad-gita Sri
Krsna menunjukkan bahwa, segala kesengsaraan disebabkan karena kita
mempersamakan diri dengan badan.

matra-sparsas tu
kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah

agamapayino ‘nityas tams titiksasva bharata

“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat
sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikana halnya musim
dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga
Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang
harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg. 2.14).

Pada musim panas
barangkali ktia bersenang hati kena air, tetapi pada musim dingin kita
menghindari air yang sama, karena terlau dingin. Baik pada musim panas maupun
pada musim din gin, airnya sama saja, tetapi kita merasakan bahwa air itu
menyenangkan atau menyakitkan karena hubungannya dengan badan. Segala perasaan
keduka-citaan dan kesenangan disebabkan oleh badan. Asal saja ada keadaan yang
tertentu, badan dapat merasakan kesenangan dan keduka-citaan. Sebenarnya kita
rindu akan kebahagiaan karena kedudukan roh yang dasar ialah kedudukan
kebahagiaan. Roh-roh adalah bagian-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang
mempunyai isifat yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa
bersifat sac-ideology-ananda-vigrahan. Yaitu, perwujudan dari pengetahuan,
kebahagiaan dan kekekalan. Memang nama Krsna, yang tidak hanya dimiliki satu
kelompok tertentu, berarti, kebahagiaan yang paling tinggi”. Krs adalah sarinya
kebahagiaan, dan kita sebagai bagian-bagian dari Beliau yang mempunyai sifat
yang sama seperti Beliau, kita pun rindu akan kebahagiaan. Satu tetes air laut
mempunyai segala sifat dari lautan yang luas, demikian pula kita mempunyai
sifat-sifat tenaga yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa, padahal kita hanya
bagian-bagian yang kecil sekali dari Keseluruhan Yang Utama, Tuhan Yang Maha
Esa.

Sungguhpun roh sangat
kecil sekali seperti atom, namun roh lah yang menggerakkan badan sehingga badan
itu banyak bertindak dengan cara yang ajaib. Alangkah banyaknya kota-kota,
jalan raya, jembatan, gedung yang tinggi, tugu dan peradaban yang agung yang
kita lihat di dunia, tetapi siapakah yang membuat segala-galanya itu ?
Segala-galanya dibuato leh bunga api rohani yang sangat kecil, yang berada
didalam badan. Kalau keajaiaban-keajabain seperti yang tersebut diatas dapat
dilakukan oleh bunga api rohani yang sangat kecil, maka kita belum dapat
membayangkan apa yang dapat dicapai oleh Keseluruhan Rohan Yang Paling Utama.
Keinginan yang wajar bagi bunga api rohani yang kecil ialah keinginan untuk
mendapatkan sifat-sifat dari keseluruhan, yaitu pengetahuan, kebahagiaan dan
kekekalan. Tetapi keinginan-keinginan tersebut sekarang dialang-alangi karena
badan jasmani. Keterangan tentang cara mencapai apa yang diinginkan oleh roh
itu diberikan dalam Bhagavad-gita.

Sekarang ini kita berusaha
untuk mencapai kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan dengan cara memakai alat
yang kurang sempurna. Sesungguhnya kemajuan kita menuju pada tujuan-tujuan
tersebut dialangi-alangi oleh badan jasmani, karena itu kita harus menginsafi
kehidupan kita diluar badan tidaklah cukup. Kita harus selalu menjaga agar diri
kita menyediri dari badan dan mengendalikan badan, janganlah kita menjadi hamba
untuk badan. Kalau kita sudah tahu cara mengemudi mobil dengan baik, maka mobil
itu akan melayani kita dengan baik, tetapi kalau kita belum tahu cara
mengemudikan, maka kita berada dalam keadaan bahaya.

Badan terdiri dari
indria-indria, dan indria-indria selalu haus akan obyeknya. Mata melihat orang
yang cantik atau tampan, kemudian memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada
gadis yang cantik, disana ada lelaki yang tampan. Marilah kita kesana untuk
melihat.”

Telinga memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada musik yang bagus.
Marilah kita pergi mendengar musik itu”. Lidah mengatakan “Disana ada restoran
yang bagus yang menghidangkan makanan yang lezat. Marilah kita kesana”. Seperti
itulah indria-indria menarik diri kita dari suatu tempat ketempat yang lain,
dan karena itu kita menjadi bingung.

indriyanam hi caratam yan mano’ nuvidhiyate

tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi

“Bagaikan kapal diatas air dibawah pergi oleh angin yang keras, begitu juga
kecerdasan seseorang dapat dibawah pergi bahkan oleh satu saja diantara
indria-indria yang menjadi pusat perhatian bagi Pikiran”. (Bg. 2.67).

Kita harus belajar cara
mengendalikan indria-indria. Gelar gosvami diberikan kepada orang yang sudah
mengetahui cara menklukan indria-indria. Go berarti “indria-indria, dan svamiPrabupada_2
berarti “pengendali, demikian orang yang dapat mengendalikan indria-indria
disebut gosvami. Krsna menunjukkan bahwa, orang yang mempersembahkan dirinya
dengan badan jasmani yang bersifat khalayan, dia tidak dapat menjadi mantap
dalam identitasnya yang benar, yaitu, sebagai roh atau atman. Kebahagiaan
jasmani berkelip-kelip dan memabukkan, dan kita tidak dapat menikmati
kebahagiaan jasmani karena sifatnya sementara saja. Kebahagian yang sejati
berasal dari roh atau atman, bukan dari badan. Kita harus membentuk kehidupan
kita supaya kita tidak akan disesatkan oleh kebahagiaan jasmani. Bagaimanapun
kalau kita disesatkan, maka tidak mungkin kesadaran kita dijadikan mantap dalam
identitasnya yang sejati, yaitu lain daripada badan.

bhogaisvarya-prasaktanam ta yapahrta-cetasam

vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate

trai-gunya-visaya veda nistrai-gunyo bhavarjuna

nirdvandvo
nitya-sattva-stho niryoga-ksema atmavan

“Orang-orang yang pikirannya terlau terikat dengan kepuasan indria-indria
dan kekayaan duniawi sehingga pikirannya menjadi bingung karena hal-hal itu,
mereka tidak dapat bertambah hati dengan mantap untuk berbakti kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Veda pada umumnya menguraikan tentang tiga sifat alam
(tri-guna), O Arjuna. Atasilah tiga sifat alam itu. atasilah semuanya.
Lepaskanlah diri anda dari segala hal yang relatif dan kecemasan akan
keuntungan dan keselamatan, dan menjadi mantap pada Paramatma (Roh Yang
Utama)”. (Bg. 2.44-45).

Kata Veda berarti “buku
ilmu pengetahuan.” Ada banyak buku pengetahuan yang lain sesuai dengan negeri,
penduduk, lingkungan, dan sebagainya. Di India, Kita-kitab Pengetahuan disebut
Veda. Di negara-negara Barat, Kitab-Kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Quran. Apa maksud daripada semua
Kitab-kitab tersebut ialah melatih kita agar kita dapat mengerti kedudukan kita
sebagai roh-roh yang bersifat suci. Maksudnya ialah mengendalikan kegiatan
jasmani dengan aturan-aturan yang tertentu disebut norma-norma moril. Misalnya
dalam Kitab Injil ada sepuluh perintah yang dimaksudkan untuk mengatur
kehidupan. Badan harus dikendalikan agar kita dapat mencapai kesempurnaan yang
paling tinggi, dan tanpa prinsip-prinsip untuk mengatur, tidak mungkin ktia
menyempurnakan kehidupan kita. Aturan-aturan mungkin berbebda diantara satu
negeri dan negeri yang lain, atau diantara salah satu Kitab Suci dan Kitab Suci
yang lain, tetapi itu tidak menjadi soal sebab peraturan-peraturna tersebut
dibuat sesuai dengan zaman, keadaan dan mental rakyat (desa, kala, patra).
Tetapi prinsipnya sama saja, yaitu, pengendalian secara tertatur. Begitu pula
pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk dituruti oleh penduduk negara.
Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan ataupun dalam peradaban tanpa ada
peraturan-peraturan. Dalam sloka yang disebut diatas, Sri KRsna memberitahukan
kepada Arjuna bahwa, aturan-aturan dalam Veda dimaksudkan untuk mengendalikan
tiga sifat alam, yaitu sattva (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan)
traigunya-visaya vedah). Akan tetapi, Krsna memberi nasehat kepada Arjuna agar
Arjuna menjadi mantap dalam kedudukannya yang dasar sebagai roh diluar hal-hal
yang relatif dari alam duniawi.

Sebagaimana ditunjukkan
tadi, hal-hal relatif tersebut, seperti misalnya, panas dan dingin, rasa senang
dan rasa sakit, timbul karena hubungan indria-indria dengan obyek-obyeknya.
Dengan kata lain, hal-hal tersebut muncul karena seseorang mempersamakan
dirinya dengan badan. Krsna Menerangkan bahwa, orang yang gemar akan kenikmatan
dan kewibawaan dipengaruhi oleh kata-kata dari Veda yang menjanjikan kebahagian
dan kenikamtan di svarga dengan cara melakukan pengorbanan dan kegiatan yang
teratur. Kenikmatan adalah hak asasi kita, sebab itu merupakan sifat dari roh,
tetapi roh itu berusaha menikmati secara duniawi, dan inilah kesalahannya.

Semua orang mencari kenikmatan dalam hal-hal duniawi dan berusaha untuk
mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang menjadi ahli ilmu
kimia, ada yang menjadi ali ilmu fisika, ahli politik, ahli seni rupa, dan
lain-lain. Seorang orang mengetahui banyak tentang sesuatu hal, dan juga
mengetahui sekedar tentang segala hal, dan inilah yang biasanya disebut
pengetahuan. Tetapi ketika kita meninggalkan badan, segala pengetahuan tersebut
akan hilang. Dalam penjelmaan dahulu, mungkin seseorang pernah menjadi orang
yang sangat berpenegetahuan, tetapi selama penjelmaan ini dia harus mulai lagi
dengan masuk sekolah dan belajar cara membaca dan menulis dari dasar-dasarnya.
Orang-orang sudah lupa akan segala pengetahuan yang didapatinya selama
penjelamaannya yang dahulu. Sebenarnya kita mencari pengetahuan yang kekal,
tetapi pengetahuan yang kekal itu tidak dapat diperoleh dengan badas jasmani
ini. Kita semua mencari kebahagiaan melalui badan-badan ini, tetapi kenikmatan
jasmani bukan kenikmatan yang sejati. Kenikmatan jasmani bersifat tiruan saja.
Kita harus mengerti bahwa, kalau kita ingin melanjutkan kenikmatan tiruan
tersebut, maka kita tidak akan dapat mencapai kedudukan kita yang kekal, yaitu,
kedudukan dimana kita menikmati untuk selamanya.

Harus dianggap bahwa badan
itu adalah seperti keadaan sakit. Orang yang sakit tidak dapat menikmati
sesuatu secara layak. Misalnya, orang yang sakit kuning merasakan manisnya gula
sebagai pahi, tetapi orang yang sehat dapat merasakan anisnya gula itu. baik
bagi orang yang sakit, maupun bagi orang yang sehat, gula nya sama saja, tetapi
sesuai dengan keadaan kita rasanya lain. Kalau pengertian kehidupan jasmani
yang telah diumpamakan sebagai keadaan sakit belum disembuhkan, maka tidak
mungkin kita merasakan manisnya kehidupan rohani. Kalau kita belum sembuh dari
pengertian tersebut, maka kehidupan rohan rasanya pahit bagi kita. Pada waktu
yang sama, dengan meningkatkan kenikmatan kita dari kehidupan duniawi, kita semakin memperparah keadaan
sakit. Orang yang sakit tyupus tidak boleh makan makanan yang padatr. Kalau
seseorang memberi makanan yang padat kepada si penderita agar dia menikmati,
kemudian si penderita makan makanan itu, maka dia menyebabkan penyakit itu
menjadi semakin parah dan membahayakan keselamtan si penderita. Kalau kita
benar-benar ingin bebas dari penderitaan duniawi, maka kita harus mengurangi
kebutuhan dan kenikmatan kita yang bersifat jasmnai. Sebenarnya kenikmatan
duniawi itu sama sekai bukan kenikmatan. Kenikmatan yang sejati tidak ada
habis-habisnya. Dalam Mahabharata ada sebuah sloka yang berbunyi : ramante
yogino, nante, yang berarti bahwa, para yogi (yogino) yang berusia untuk naik
tingkat sampai tingkatan rohani, sebenarnya mereka menikmati (ramante), tetapi
kenikmatan itu bersifat anante, yaitu tidak ada habis-habisnya. Ini karena
kenikmatan para yogi ada hubungannya dengan Yang Maha Menikmati (Rama), yaitu,
Sri Krsna. Sebenarnya Bhagavan Sri Krsna yang menikmati, dan ini dibenarkan
dalam Bhagavad-gita :

bhoktaram yajna-tapasam sarva-loka-mahesvaram

suhrdam sarva-bhutanam jnatva mam santim rcchati

‘Para resi yang mengetahui bahwa akhirnya Aku yang menikmati hasil dari
segala pertapaan dan pengorbanan (yajna), bahwa Aku Tuhan Yang Maha Esa yang
berkuasa atas semua planet-planet dan dewa-dewa, dan bahwa Aku teman baik bagi
setiap makhluk hidup, merekalah yang mencapai kedamaian bebas dari sedihnya
kesengsaraan duniawi. (Bg. 5.29).

Bhoga berarti “kenikmatan”,
dan kenikmatan kita berasal dari pengertian tentang kedudukan kita, yaitu,
bahwa kita dinikmati. Sebenarnya yang menikmati ialaha Tuhan Yang Maha Esa, dan
kita semua menikmati oleh Beliau.

Sebuah contoh daripada
hubungan tersebut dapat ditemui di dunia ini, yaitu, hubungan antara suami dan
isteri, sang suami yang menikmati (purusa), dan sang isteri yang dinikmati
(prakrti). Kata pri berarti “wanita”. Purusa, atau kerohanian, adalah subyek,
dan prakrti, atau alam, adalah obyek. Akan tetapi suami-istri keduanya
berpartisipasi dalam kenikmatan. Apabila kenikmatan benar-benar ada, maka tidak
ada perbedaan, misalnya bahwa suami lebih menikmati atau istrinya kurang
menikmati. Walaupun lelaki yang lebih berkuasa, tidak ada perbedaan dalam
rangka menikmati. Dalam skala yang lebih luas, tidak ada makhluk hidup yang
menikmati.

Tuhan Yang Maha Esa
tenaga-Nya menjelma menjadi banyak, dan kita ini penjelmaan-penjelmaan itu.
Tuhan adalah satu yang tiada duanya, tetapi Beliau ingin supaya tenaga-Nya
menjadi banyak supaya Beliau dapat menikmati. Kita sudah mengalami bahwa, kalau
kita duduk sendirian di kamar bercakap-cakap dengan diri sendiri, hampir tidak
ada kenikmatan. Akan tetapi, kalau ada lima orang, maka kenikmatan kita
ditingkatkan, dan apabila kita dapat bercakap-cakap tentang Krsna bersama
banyak orang, maka kenikmatannya lebih tinggi lagi. Kenikmatan berarti
keaneka-warnaan. Tenaga Tuhan menjadi banyak demi kenikmatan Beliau, demiian
kedudukan kita ialah sebagai “yang dinikmati. Walaupun Krsna yang menikmati dan
kita yang dinikmati, semua dapat berpartisipasi dalam kenikmatan secara merata.
Kenikmatna kita dapat disempurnakan apabila kita berpartisipasi dalam
kenikmatan Tuhan. Tidak mungkin menikmati sendiri pada bidang-bidang jasmani.
Dalam banyak sloka dari Bhagavad-gita dinasihati supaya orang jangan menikmati
secara dunaiwi pada tingkatan badan jasmani yang kasar.

matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah

agamapayino ‘nityas tams titiksasva bharata

“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat
sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikan halnya musim
dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga
Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang
harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg.2.14).

Badan jasmani yang kasar
adalah akibat dari hal saling mempengaruhi dari tiga sifat alam, dan sudah
ditakdirkan bahwa badan itu akan dibinasakan.

antavanta ime deha nityasyoktah saririnah

anasino prameyasya tasmad yudhyasva bharata

Yang dapat dibinasakan hanyalah tubuh dari makhluk hidup, dan makhluk hidup
itu sendiri bersifat kekal, tidak dapat termusnahkan ataupun diukur ukurannya.
Demikian, bertempurlah anda O putra dari keluarga Bharata. (Bg.2.18).

Demikian Sri Krsna memberi
semangat kepada kita agar kita mengatasi pengertian kehidupan yang jasmani dan
agar kita mencapai kehidupan rohani yang sejati.

gunan etan atitya trin dehi deha-samudbhavan

janma-mrtyu
jara-duhkhair vimukto ‘mrtam asnute

“Apabila makhluk yang berbadan dapat mengatasi tiga sifat tersebut, yaitu,
kebaikan, nafsu dan kebodohan, maka ia dapat bebas dari kelahiran, kematian
masa tua dan penderitaannya dan bahkan selama kehidupan ini pun ia dapat
menikmati amrta. (Bg. 14.20).

Supaya kita dapat menjadi mantap pada tingkatan rohani yang disebut
brahma-bhuta, diatas tiga sifat ala, kita harus memulai cara Kesadaran Krsna.
Berkat dari Sri Caitanya Mahaprabhu, yaitu, cara mengucapkan nama-nama
Krsna-Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama,
Rama Rama, Hare Hare mempermudah cara tersebut. Cara ini disebut bhakti-roga
atau mantra-yoga dan mantra itu dipergunakan oleh para rohaniawan yang paling agung. Bagaimana para rohaniawan insaf
akan identitasnya diluar kehalhiran dan kematian, diluar badan jasmani, serta
bagaimana mereka memindahkan dirinya keluar dari alam semesta sampai alam
semesta rohani, itulah yang merupakan mata pembicaraan dalam bab-bab berikut.

(dikutip Dari Buku ”Diluar Kelahiran & Kematian” karangan Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami
Prabhupada ; Acharya dan Pendiri dari International for Krishna
Consciousness).**

NB: Dikutip untuk kalangan sendiri, dan keperluan preaching

2 Comments »

  1. Saci Dewi Said:

    mengapa harus berwarna biru tubuh sri krsna dan mengapa harus bulu merak di atas kepalanya?????

    • warna biru melambangkan suatu hal yang tidak terbatas, seperti halnya langit, bulu burung merak melambangkan keindahan dan kebijaksanaan


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: